Melihat Indonesia Melalui Kacamata Jogja

“Beruntunglah kalian memiliki candi-candi indah yang kerap menjadi tujuan turis mancanegara untuk ziarah ataupun wisata religi,” ujar Dr. Andrea Acri, ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno di tengah kuliah umumnya di Auditorium Sanata Dharma, Yogyakarta.

Kebetulan saya hadir menjadi salah satu peserta pada kuliah umum yang bertajuk “The Roles of Sriwijaya on Developing Borderless Civilization” (3/8). Memang kuliah umum ini tidak membahas secara spesifik candi-candi yang terdapat di Yogyakarta namun lebih kepada mengkaitkan peran peninggalan candi-candi tersebut di tengah era globalisasi saat ini. Sebagai destinasi archaeotourism yang terkenal, Yogyakarta memang sangat kaya dengan keberadaan candi-candi kuno dimana kita bisa menemukan reruntuhan dari peradaban masa lalu. Saya pun teringat 9 tahun yang lalu, saat saya menemani Andrea Acri dan Arlo Griffiths kawannya mengunjungi beberapa candi di sekitar candi Prambanan untuk melakukan penelitian tentang prasasti Jawa kuno. Salah satu candi yang dikunjungi adalah Candi Banyunibo yang terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman.

Candi Banyunibo – Foto oleh dwisaktisetiawan @instagram

Continue reading →

Advertisements

​Cafe review : Welcome to Yogyakarta for The Homey Cafe Resto, GiggleBox

Yogyakarta – If you are the big fan of vintage things, you must be familiar with this cafe resto. Yes, GiggleBox which firstly opened in Bandung city. And now, Yogyakarta chosen as the 26th outlets in Indonesia. I was invited to join the brunch time in a blogger gathering yesterday. The theme put was “Happily Ever After” with all kind of ambience supported. It makes me imagine to be a princess who entering a new world that will give me a happy feeling after. 
Continue reading →

Musim Panas Impian di Adelaide, Si Kota Kosmopolitan

All the king’s horses, all the king’s men

Wouldn’t drag me back again

To Adelaide, Adelaide, Adelaide, Adelaide

Lirik lagu ini menggambarkan kerinduan Paul Kelly untuk bisa kembali lagi ke Adelaide, kota masa kecilnya. Kota Adelaide yang terletak di Australia Selatan ini memiliki banyak julukan, seperti Kota 20 Menit (dimana semua tempat dapat ditempuh dalam waktu 20 menit), Kota Seribu Gereja, dan Kota Festival.

image-adapt-1663-medium
Doc. http://www.australia.com/en/places/adelaide.html

Continue reading →

Menuju Jogja Heritage City

Tahun 2014 silam saya bepergian ke Jepang dan menaruh Kyoto sebagai tujuan utama perjalanan. Mengapa? Sebagai bekas ibukota Jepang selama lebih dari 1,000 tahun, Kyoto berkembang menjadi tempat dengan budaya yang tak ternilai dan tradisi yang tetap terjaga selama berabad-abad. Kuil-kuil kuno dan jalanan tradisional yang tenang membuat nuansa Jepang yang masih tradisional sangat terasa. Maka tak heran Kyoto kini menyandang predikat sebagai World Heritage City dari UNESCO.

Continue reading →

Belajar Menulis Dengan Banyak Membaca

Bulan September silam, saya berkesempatan hadir dalam acara bedah buku milik Zen RS yang berjudul Simulakra. Sayangnya saya dan suami sedikit terlambat sehingga baru mengikuti acara tepat dipertengahan. Acara yang digelar di Solo ini diselenggarakan di Rumah Blogger Indonesia.

Continue reading →

​Padar Island and Nine Island were Wrapped

“Harus ke Padar, sayang udah jauh-jauh gak kesana,” ujar seorang teman yang sebelumnya pernah berkunjung kesana. 

Hampir setiap melihat itinerary soal Komodo Trip, Padar selalu menjadi nilai jual tersendiri. Sebagai Instagram Addicts, saya sering terpukau oleh foto-foto teman maupun travel blogger yang pernah kesana. Sampai akhirnya saya berkesempatan melihat langsung tanpa melalui instagram saat libur lebaran lalu.
Continue reading →

Inovasi Daerahku: Sejahtera Bersama Melalui Kelompok Tani

Siang yang panas di Desa Honihama, Flores Timur pada bulan April 2015, saya berkunjung  ke Kelompok Tani Lewowerang (KTL). Berbekal informasi dari tokoh setempat dan ditambah informasi dari internet yang saat itu masih sangat terbatas, saya berkenalan dengan kelompok ekonomi masyarakat yang merupakan salah satu kabar baik dari Indonesia Timur  yang merupakan perpaduan antara koperasi dengang gemohing. Gemohing sendiri adalah istilah gotong royong bagi masyarakat Lamaholot, Flores Timur. Saya ditemani oleh Bapak Kamilus Tupen, penggagas dan pendiri KTL serta beberapa anggota KTL.

DCIM100GOPROGOPR0015.

Bersama Pak Kamilus (jaket abu-abu) dan warga Honihama

Pak Kamilus enggan kelompok ini disebut sebagai koperasi. Pasalnya dalam praktiknya, yang ditabung dan dipinjam oleh anggota KTL bukanlah uang melainkan sumber daya manusia. Hal inilah yang menjadikan KTL memiliki nilai jual tersendiri. KTL mampu membuktikan bahwa perekonomian mampu dijalankan dengan landasan solidaritas antar warga untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Continue reading →

​Wae Rebo, Kampung Di Atas Awan

wp-1470317314482.jpg

Saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Dan tidak terbayangkan bahwa ternyata track menuju Kampung Wae Rebo cukup menanjak. Awalnya kami berencana naik pada keesokan harinya dan menginap di Desa Denge semalam, mengingat hari itu juga kami baru tiba dari Labuan Bajo sekitar pukul 2 siang. Namun karena ada rombongan yang akan naik, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo hari itu juga. 

Continue reading →

Kelimutu The Mountain of Spirit

Pertama kali mengenal Kelimutu adalah dari uang 5.000, hingga akhirnya saya berkesempatan untuk berkunjung kemari. Saya dan suami tiba yang pertama kalinya di parkiran kawasan Kelimutu, yaitu sekitar pukul 1/2 5 pagi. Langit masih gelap dan penerangan pun tak ada. Meski demikian perjalanan belum berakhir, kita harus berjalan lagi sekitar 20 menit hingga ke puncak lokasi untuk dapat melihat Kelimutu dari dekat.  Continue reading →

Resensi Buku “O” oleh Eka Kurniawan

FullSizeRender copy.jpg

“Kau tahu kenapa ayahmu almarhum memberimu nama yang lucu itu? Nama yang pendek? Hanya satu huruf?” tanya ibunya. Si gadis menggeleng. “Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran.

Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O.”  (Hal. 418)

Continue reading →