​Cafe review : Welcome to Yogyakarta for The Homey Cafe Resto, GiggleBox

Yogyakarta – If you are the big fan of vintage things, you must be familiar with this cafe resto. Yes, GiggleBox which firstly opened in Bandung city. And now, Yogyakarta chosen as the 26th outlets in Indonesia. I was invited to join the brunch time in a blogger gathering yesterday. The theme put was “Happily Ever After” with all kind of ambience supported. It makes me imagine to be a princess who entering a new world that will give me a happy feeling after. 


How’s the Vibe?

First time I arrived I feel the vintage and homey athmosphere around as usual (I have ever visited GiggleBox in Bandung before). It was also surprisingly nice, with warm lightning and ornaments such as wooden seats and window home decor. GiggleBox claims it’s not just a cafe but a place where you can feel the happy moment with friends and family. And I agree with that. 

What to Order?

We were served with the various menu both local and western menu, crispy chicken Maryland, iga garang asem, and many more. One the recommend food is Medallion Mozzarella Beef, a pasta served with beef topped in mozzarella. The beef taste is really delicious, so tender and creamy with a savory marinade. The chef said GiggleBox always using the high quality meat. 

The main menu served for our brunch are beef rancher, spicy chrispy beef with sweet and sour sauce with additional mushroom sauce and also grilled chicken vietnam which served with rice. As I told you before that the meat used is in good quality, so as well for this two menus. 

Beef Rancher

Grilled Chicken Vietnam

They have various kind of drink and coffee, so we would not just come here to eat but also to chillax with friends.  The price here is so affordable, so don’t hessitate to come and feel that happily ever after feeling. 
GiggleBox Cafe & Resto

Where:

The location is very strategic in the downtown Yogyakarta.

Lippo Plaza Jogja, Grand Floor 61

Jl. Laksa Adisucipto 32-34 Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta 

Musim Panas Impian di Adelaide, Si Kota Kosmopolitan

All the king’s horses, all the king’s men

Wouldn’t drag me back again

To Adelaide, Adelaide, Adelaide, Adelaide

Lirik lagu ini menggambarkan kerinduan Paul Kelly untuk bisa kembali lagi ke Adelaide, kota masa kecilnya. Kota Adelaide yang terletak di Australia Selatan ini memiliki banyak julukan, seperti Kota 20 Menit (dimana semua tempat dapat ditempuh dalam waktu 20 menit), Kota Seribu Gereja, dan Kota Festival.

image-adapt-1663-medium
Doc. http://www.australia.com/en/places/adelaide.html

Continue reading →

Menuju Jogja Heritage City

Tahun 2014 silam saya bepergian ke Jepang dan menaruh Kyoto sebagai tujuan utama perjalanan. Mengapa? Sebagai bekas ibukota Jepang selama lebih dari 1,000 tahun, Kyoto berkembang menjadi tempat dengan budaya yang tak ternilai dan tradisi yang tetap terjaga selama berabad-abad. Kuil-kuil kuno dan jalanan tradisional yang tenang membuat nuansa Jepang yang masih tradisional sangat terasa. Maka tak heran Kyoto kini menyandang predikat sebagai World Heritage City dari UNESCO.

Continue reading →

Belajar Menulis Dengan Banyak Membaca

Bulan September silam, saya berkesempatan hadir dalam acara bedah buku milik Zen RS yang berjudul Simulakra. Sayangnya saya dan suami sedikit terlambat sehingga baru mengikuti acara tepat dipertengahan. Acara yang digelar di Solo ini diselenggarakan di Rumah Blogger Indonesia.

Continue reading →

​Padar Island and Nine Island were Wrapped

“Harus ke Padar, sayang udah jauh-jauh gak kesana,” ujar seorang teman yang sebelumnya pernah berkunjung kesana. 

Hampir setiap melihat itinerary soal Komodo Trip, Padar selalu menjadi nilai jual tersendiri. Sebagai Instagram Addicts, saya sering terpukau oleh foto-foto teman maupun travel blogger yang pernah kesana. Sampai akhirnya saya berkesempatan melihat langsung tanpa melalui instagram saat libur lebaran lalu.
Continue reading →

Inovasi Daerahku: Sejahtera Bersama Melalui Kelompok Tani

Siang yang panas di Desa Honihama, Flores Timur pada bulan April 2015, saya berkunjung  ke Kelompok Tani Lewowerang (KTL). Berbekal informasi dari tokoh setempat dan ditambah informasi dari internet yang saat itu masih sangat terbatas, saya berkenalan dengan kelompok ekonomi masyarakat yang merupakan salah satu kabar baik dari Indonesia Timur  yang merupakan perpaduan antara koperasi dengang gemohing. Gemohing sendiri adalah istilah gotong royong bagi masyarakat Lamaholot, Flores Timur. Saya ditemani oleh Bapak Kamilus Tupen, penggagas dan pendiri KTL serta beberapa anggota KTL.

DCIM100GOPROGOPR0015.

Bersama Pak Kamilus (jaket abu-abu) dan warga Honihama

Pak Kamilus enggan kelompok ini disebut sebagai koperasi. Pasalnya dalam praktiknya, yang ditabung dan dipinjam oleh anggota KTL bukanlah uang melainkan sumber daya manusia. Hal inilah yang menjadikan KTL memiliki nilai jual tersendiri. KTL mampu membuktikan bahwa perekonomian mampu dijalankan dengan landasan solidaritas antar warga untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Continue reading →

​Wae Rebo, Kampung Di Atas Awan

wp-1470317314482.jpg

Saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Dan tidak terbayangkan bahwa ternyata track menuju Kampung Wae Rebo cukup menanjak. Awalnya kami berencana naik pada keesokan harinya dan menginap di Desa Denge semalam, mengingat hari itu juga kami baru tiba dari Labuan Bajo sekitar pukul 2 siang. Namun karena ada rombongan yang akan naik, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo hari itu juga. 

Continue reading →

Kelimutu The Mountain of Spirit

Pertama kali mengenal Kelimutu adalah dari uang 5.000, hingga akhirnya saya berkesempatan untuk berkunjung kemari. Saya dan suami tiba yang pertama kalinya di parkiran kawasan Kelimutu, yaitu sekitar pukul 1/2 5 pagi. Langit masih gelap dan penerangan pun tak ada. Meski demikian perjalanan belum berakhir, kita harus berjalan lagi sekitar 20 menit hingga ke puncak lokasi untuk dapat melihat Kelimutu dari dekat.  Continue reading →

Resensi Buku “O” oleh Eka Kurniawan

FullSizeRender copy.jpg

“Kau tahu kenapa ayahmu almarhum memberimu nama yang lucu itu? Nama yang pendek? Hanya satu huruf?” tanya ibunya. Si gadis menggeleng. “Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran.

Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O.”  (Hal. 418)

Continue reading →

5,000 Lampion Di Hari Raya Waisak 2016

Minggu lalu umat Budha merayakan hari besar keagamaan, yaitu Waisak di Candi Borobudur, Magelang. Perayaan yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini tak hanya dihadiri oleh para umat Budha dari seluruh penjuru negeri namun juga wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. 
Bagi saya, mengunjungi Candi Borobudur saat perayaan Waisak bukanlah kali pertama. Sewaktu saya masih kecil mama selalu mengajak saya dan adik-adik saya untuk melihat perayaan Hari Raya Waisak. Pasalnya rumah saya hanya sekitar 10 menit untuk sampai ke Candi Borobudur. Namun dulu belum ada event penerbangan lampion seperti saat ini yang kerap menjadi daya tarik wisatawan.

Continue reading →