Pengalaman Bersama Indegeneous Papua

Selama dua minggu saya tinggal dikampung Banda, distrik Waris, Jayapura Papua, yang merupakan daerah yang dekat dengan perbatasan dengan Papua New Genea. Mayoritas penduduk adalah indigenous (penduduk asli) dengan fam May. Disini saya belajar banyak mengenai bagaimana kehidupan mereka sehari-hari. Dari proses situ saya menyimpulkan menjadi beberapa topik bahasan, yaitu meliputi pendidikan, ekonomi, hubungan sosial, dan aktivitas spiritual.

  1. a.      Pendidikan

Proses pendidikan berjalan cukup baik untuk wilayah Banda serta Kalibom. Hanya saja terkadang terhambat oleh kendala cuaca yang menghambat anak-anak untuk pergi ke sekolah, terlebih bagi mereka yang harus melewati sungai. Saya sangat salut bagi anak-anak yang semangat pergi ke sekolah dengan berjalan kaki yang berjarak 10 kilo. Hanya tidak sedikit pula yang putus sekolah. Banyak dari mereka enggan melanjutkan sekolah karena kendala jarak yang sangat jauh serta sudah merasa nyaman dengan aktivitas berkebun. Salah seorang anak menyatakan bahwa dia sudah punya lahan dan memiliki pohon cokelat serta sayur-sayuran, sehingga sudah cukup baginya untuk bisa bertahan hidup.

Banyak sistem pendidikan yang memang sangat berbeda dengan apa yang saya alami di Jawa. Di Jawa bagi mereka yang putuh sekolah karena hamil atau memang tidak ingin melanjutkan lagi, sama sekali tidak dapat melanjutkan ke bangku sekolah ketika mereka ingin kembali. Namun disini, kesempatan untuk bersekolah sangat terbuka lebar, biarpun mereka sudah berkeluarga sekalipun. Hal ini juga dikarenakan beberapa hal, pertama jumlah murid di sekolah yang tidak terlalu banyak, dan kedua karena tingkat putus sekolah yang sangat tinggi.

Untuk wilayah Kalipao, kondisi cukup mempriihatinkan. Dimana satu kelas hanya terdiri dari beberapa orang saja dan bahkan mayoritas adalah siswa pria. Bapak kepala sekolah mengatakan bahwa hal ini dikarenakan anak perempuan banyak yang sudah dikawinkan, baik karena kawin tukar ataupun kawin paksa. Oleh sebab itu ada kebijakan bagi orang tua untuk membayar Rp 5,000,000,- bagi mereka yang ingin mengeluarkan anaknya untuk dikawinkan. Hanya kemudian jumlah ini dirasa masih kecil sehingga meningkat menjadi Rp 15,000,000,-. Hal ini diharapkan supaya orang tua berpikir ulang untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah untuk dikawinkan.

Karakteristik anak-anak di kedua wilayah inipun sangat berbeda. Di Banda anak-anak jauh lebih mudah untuk terbuka dengan orang luar ketimbang di Kalipao. Anak-anak di Kalipao cenderung diam dan susah diajak berkomunikasi. Mereka seakan-akan minder dan tidak percaya diri dengan kedatangan orang luar.

  1. b.      Ekonomi

Mayoritas masyarakat memiliki mata pencaharian dengan bekerja di ladang. Hasil utamanya adalah cokelat. Dan juga hasil kebun lainnya seperti sayur-sayuran, tomat, cabai, dll. Dari hasil kebun ini, ada yang untuk konsumsi pribadi, ada yang juga untuk dijual di pasar. Sementara untuk konsumsi daging, mereka mengandalkan hasil berburu (babi hutan, burung maleo, tikus hutan, rusa).

Dalam hal berdagang, mereka biasa menjual dipasar sore maupun pagi untuk hari-hari tertentu. Dan sebagian kecil saja yang menjual barang dagangannya ke pasar di kota.

  1. c.       Hubungan sosial

Jiwa sosial masyarakat disini sangat tinggi. Sifat tolong menolong dan saling berbagi sangat jelas terlihat. Hal ini nampak dengan berbagi hasil kebun, serta berbagi hasil berburu. Mereka memiliki kebiasaan untuk mampir dahulu ketika melewati rumah saudara. Karena ada rasa segan dan tidak enak hati apabila langsung melewatinya begitu saja. Sehingga hubungan persaudaraan serta antar warga sangat kuat.

Berbicara mengenai pinang, dapat dikatakan pinang adalah media sosialisasi. Sewaktu mereka berkumpul dan bercengkerama pinang pastilah menjadi hal penting yang ada disitu. Mereka berbagi pinang, sirih serta kapur.

Dalam lingkup keluarga, orang tua memiliki kecenderungan cuek dengan pendidikan anak. Mereka tidak terlalu ambil pusing ketika anak malas sekolah. Lain halnya dengan di Jawa, dimana orang tua memiliki kecenderungan untuk sangat keras akan pendidikan anak-anaknya.

  1. d.      Aktivitas spiritual

Umumnya masyarakat mayoritas beragama Katolik. Mereka memandang sesame mereka yang beragama Katolik sebagai saudara. Ada positif negative yang saya lihat disini. Untuk hal positif, mereka memeiliki kemandirian dalam kegiatan keagamaan. Organisasi masyarakat ini disebut sebagai Kombas(1,2,3), dalam kegiatan ini masyarakat mengadakan kebaktian setiap seminggu sekali, serta juga sekolah minggu bagi anak-anak. Tujuan dari kegiatan ini adalah semakin menumbuhkan iman masyarakat juga anak-anak. Bahkan mereka melakukan ini berdasarkan inisiatif bersama sesame anggota masyarakat.

Sementara hal negatifnya adalah mereka cenderung membentengi diri bagi organisasi maupun kelompok yang berada di luar agama Katolik. Jadi di di desa Kalibom akan dibangun Unit Sekolah Baru dari tingkat TK hingga PT, khusus bagi mereka yang putus sekolah dan terkendala biaya. Serta disediakan asrama juga bagi mereka yang rumahnya jauh dari sekolah. Peresmian untuk pembangunan ini akan diadakan pada tanggal 11 mendatang. Dimana akan dilakukan peletakan batu pertama oleh Gubernur, sreta bupati. Dalam pembangunan ini pihak yang berinsiatif untuk membangun mendapat bantuan dari Yayasan Bonafasius yang tidak beraliran Katolik. Hal ini yang saat ini menjadi perbincangan masyarakat. Dimana mereka menganggap akan ada penanaman sekte-sekte baru diluar ajaran Katolik. Hal inilah yang ditakutkan oleh masyarakat.

Dari sini saya melihat bahwa masyarakat kurang dapat melihat sisi positif dari suatu hal dalam waktu singkat. Membutuhkan proses yang cukup lama untuk dapat meyakinkan mereka supaya dapat menerima hal tersebut. Padahal pihak yang memiliki inisiatif tersebut adalah warga Kalifam yang juga beragama Katolik. Namun itu juga masih belum cukup bagi mereka.

REFLEKSI

Ada suatu ketika datang masyarakat dari PNG ke desa ini. Dan kebetulan juga mereka tinggal di rumah Bapak Petrus May. Waktu itu juga Mama Petrus memberitahu saya bahwa mereka datang dari PNG untuk berjualan sayuran dan hasil kebun lainnya di pasar Banda. Mereka tiba dengan berjalan kaki, selama kurang lebih dua jam. Mama memberikan informasi mengenai bagaimana kondisi mereka di PNG yang sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di pedalaman yang jauh dari sentuhan pemerintah PNG. Dan bahkan untuk membeli bahan-bahan makanan, kebutuhan sehari-harai mereka harus datang ke Banda karena tidak ada yang menjual itu semua disana. Sama sekali tidak ada akses bagi mereka untuk dapat keluar dari wilayah itu menuju kota di PNG selain jalan kaki selama 5 hari. Sehingga jalan satu-satunya adalah datang ke desa Banda yang mereka sebut sebagai kota.

Disini saya menangkap bagaimana ekspresi mama ketika bercerita, bahwa ia memposisikan kondisinya serta masyarakat Banda yang jauh dari kata menderita ketika dihadapkan dengan kondisi orang PNG. Kita disini yang menganggap masyarakat kita yang rentan dan butuh bantuan ternyata mereka memposisikan diri mereka sudah berada di zona nyaman. Saya melihat bagaimana mereka senang dengan kehidupannya saat ini. Dari sini saya mendapat pelajaran untuk selalu melihat ke bawah, karena apa yang kita peroleh saat ini jauh lebih baik ketika kita mencoba untuk melihat ke bawah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: