Wanita dan Violence

Bohlam Advertising Picture

Ketika sedang berada di kantor bupati Keerom untuk keperluan kantor, saya melihat seorang mace (sapaan ibu untuk orang lokal Papua) sedang dihajar oleh suaminya di muka umum. Ini adalah kali kedua saya melihat hal semacam itu di Papua. Saya sangat kaget dan takut menyaksikan kejadian itu. Sementara itu, tidak seorangpun yang membantu melerai. Sampai ketika si pace mengeluarkan barang dan diarahkan ke mace yang menangis ketakutan. Ada seorang wanita yang membantu melindungi mace tersebut.

Diluar dari kondisi detailnya, ada beberapa hal yang menarik untuk saya. Pertama, kasus KDRT di Papua cukup tinggi. Berdasarkan data di Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana setempat hingga November telah mencapai 22 kasus (sumber : http://www.fajar.co.id/read-20111118122850-kekerasan-rumah-tangga-di-jayapura-meningkat).

Kedua, pernah seorang Pater bercerita mengenai topik tesisnya. Beliau membahas mengnai peran wanita Papua dalam sebuah keluarga. Wanita Papua memiliki peran yang tinggi dalam sebuah keluarga. Namun ketika kita melihat dari banyaknya kondisi serupa hal ini tentu sangat bertolak belakang. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ibu Elisabeth (BAPAS, Balai Pemayarakatan). Ibu Elisabeth menyatakan hal serupa. Hal ini berkaitan dengan mas kawin yang dibayarkan pihak laki-laki untuk pihak wanita. Pihak laki-laki cenderung membayar tinggi untuk pihak wanita. Kondisi inlah yang bisa dikatakan meltar belakangi tingkat KDRT yang tinggi di Papua. Pihak laki-laki akan cenderung memiliki hak sepenuhnya atas wanita tersebut. Sehingga dia terkesan bebas untuk memperlakukan istrinya sesuka hatinya, mengingat dia sudah membayar dengan harga mahal.

Secara singkat, hal ini menunjukkan bahwa kedua hal yang saya sebutkan dimuka memiliki kaitan satu sama lain. Dengan posisi dimana pihak laki-laki memiliki wewenang besar untuk mengatur dan memperlakukan itrinya sesuka hati karena dia sudah membayar mahal untuk itu dengan mas kawin. Yang secara tidak langsung ini membuat tingkat KDRT di Papua sangat tinggi, karena budaya mas kawin yang memang sudah menjadi tradisi dalam perkawinan di Papua.

Dari kedua hal ini dapat dikaitkan menjadi sebuah rangkaian pemahaman terhadapt kasus KDRT di Papua. Pemahaman yang salah terhadap konsep mas kawin menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat KDRT di Papua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: