Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Pemberitaan mengenai korupsi tidak pernah lelah mewarnai berbagai media. Rasanya satu kasus usai, muncul lagi dengan kasus yang lain. Sepertinya memang tidak ada efek jera bagi para pelaku korupsi. Korupsi telah menjadi sebuah lifestyle tersendiri bagi para kalangan elit politik. Para anggota dewan yang notabene menjadi wadah yang mampu mengayomi masyarakat malahan menjadi penghianat bagi masyarakat. Memang selalu membuat kita menjadi geram melihat tingkah polah mereka.

Kasus KPK vs POLRI, yang kala itu hangat diperbincangkan merupakan kondisi yang bisa dibilang tidak lazim. Bagaimana tidak, KPK dan POLRI yang sewajarnya bergandengan tangan memberantas korupsi malahan saling bersitegang hanya karena untuk mengalikan kasus korupsi yang saat itu sedang ditangani oleh KPK. KPK memang badan independen yang seharusnya didukung oleh pihak manapun, baik anggota dewan, maupun kepolisian. Namun ironisnya kenyataan tidak demikian. KPK seakan berjalan sendiri.

Kita lihat dari jumlah para penyidik. Hanya segelintir penyidik yang dimiliki negara ini untuk mengusut kasus korupsi. Maka jangan heran apabila kita sangat jauh tertinggal dengan Hongkong. Independent Commission Against Corruption of Hong Kong (ICAC) memiliki 3000 penyidik, sementara KPK hanya memiliki kurang lebih 100 penyidik. Hongkong jauh lebih kecil dari negara kita, namun upaya mereka memberantas korupsi jauh lebih besar dari negara kita. Maka tak heran apabila Hongkong kini bisa disebut bersih dari korupsi mengingat reputasinya dahulu. Lalu bagaimana dengan negara kita? Berkas kasus korupsi yang masuk setiap harinya bisa jadi bejibum, namun tenaga untuk menyelesaikan kasusnya terbatas. inilah yang menjadi sebab banyak kasus korupsi yang tidak tertangani karena memang dikerjakan dengan sistem tebang pilih. Andai aku menjadi ketua KPK, berkaca dari pembelajaran yang kita bisa ambil dari Hongkong, adalah memenuhi kebutuhan penyidik terlebih dahulu.

Hukuman yang diberikan kadang dirasa tidak memberikn efek jera bagi pelaku. Kita lihat Gayus, berapa banyak uang yang ia korup, lalu kita bandingkan dengan masa hukuman yang dijatuhkan. Apabila kita tarik garis lurus, bisa dibilang “enak yah jadi koruptor, ibarat kita kerja 7 tahun belum tentu dari penghasilan gaji bulanan mencapai sekian triliun”. Apabila semua orang berpikir demikian, maka makin maraklah kasus korupsi di Indonesia. Hal ini bisa kita rasakan sekarang, sudah tidak teritung lagi kasus korupsi yang melanda negeri ini. Itupun yang diungkap, dan berapa banyak lagi yang tidak diungkap. Andai aku menjadi ketua KPK, pemiskinan para koruptor yag selama ini didengung-dengungkan harusnya terealisasi.

Hingga kini, banyak kasus dari berbagai daerah yang tidak terjamah. Saya tinggal di Jayapura, sedikitpun kasus korupsi di pulau Cendrawasih ini tidak tersentu sama sekali. Mungkin yang cukup menarik adalah dana OTSUS. kemana larinya uang ini, yang notabene 1 Miliar untuk setiap kampung. Maka jangan heran apabila masyarakat Papua minta untuk merdeka.

Korupsi ibarat penjajahan yang dialami negeri ini, namun dilakukan sendiri oleh sesama anak bangsa. Apakah masih pantas mereka disebut sebagai anak bangsa? Korupsi yang telah menjadi “budaya” ini jangan sampai turun temurun ke generasi penerus. Andai aku menjadi ketua KPK,ย menjadi penting korupsi menjadi materi tersendiri yang disampaikan di sekolah. Mungkin dirasa ini adalah hal sepele, namun untuk mencapai hal yang lebih besar tidak ada salahnya kita melakukan hal kecil, demi menjaga generasi penerus kita.

Advertisements

One response

  1. sejauh ini sudah bagus ๐Ÿ™‚ demi memajukan Indosia agar bersih dari korupsi ๐Ÿ™‚

    semoga sukses ya jadi ketua KPK nya ๐Ÿ™‚
    cek punya saya juga ya di http://muslim-rupawan.blogspot.com/2012/10/kpk-bersihkan-indonesia.html ๐Ÿ™‚
    makasih ๐Ÿ™‚

    salam kenal untuk sejauh ini ๐Ÿ™‚
    dan semoga kita sebagai anak bangsa bisa ikut membantu memberantas korupsi di Indonesia ๐Ÿ™‚

    SALAM SATU JIWA ANAK BANGSA INDONESIA ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: