Sekilas Catatan Perjalanan ke Wakatobi Part 4 (Permai Indah)

IMG_3726Tibalah dihujung perjalanan di Wakatobi, memang sengaja kita tidak mengunjungi kedua pulau yang lain, yaitu Kaledupa dan Binongko. Pasalnya dari hasil survey singkat, kepuasan sudah cukup diperoleh di Tomia, dan memang benar. Kita pulang menggunakan kapal “Permai Indah”, merupakan kapal kayu yang di dalamnya kita harus menunduk karena saking rendahnya atap. Perjalanan awalnya direncanakan pukul 8 pagi, dan ternyata harus ditunda karena air masih surut. Salah seorang teman mengatakan kalau batu diujung itu sudah tertutup air, baru kita bisa jalan. Padahal air masih di dasar batu, yang batunya kira-kita setinggi 1 meter. Makanya, saya lebih baik kembali lagi ke hotel dan menunggu di sana. Kapal baru jalan pukul 12 siang. Dan perjalanan ini akan ditempuh selama 12 jam juga. Terus terang agak berat harus berada di kapal tersebut, namun karena kita berenam perjalanan menjadi tidak terasa. Awalnya ada sedikit masalah, karena tempat yang kita tempati ini ternyata milik orang lain. Seharusnya kita ditempatkan di dek bawah karena di dek atas sudah penuh. Namun, karena bantuan dari pak Dokter, entah aji-aji apa yang dia keluarkan akhirnya kita boleh di dek atas. Pasalnya di dek bawah sangat sumpek dan bau ikan. Perjalanan di mulai . . .

???????????????????????????????

Suasana di dalam kapal

Kecepatannya mungkin ibarat sepeda motor 40 km/jam, ya pantaslah kalau 12 jam baru sampai ke Bau-Bau. Selama di kapal kita melakukan apapun yang kita rasa dapat membunuh waktu, ngobrol, ngopi, ketawa-ketawa, bahkan tidur. Tapi paling ampuh memang tidur, karena tidak berasa sudah hampir sore. Namun, tempat alas tidur ini membuat seluruh badan menjadi gatal. Pasalnya alasanya digunakan bergantian tiap penumpang dan kemungkinan tidak dibersihkan. Dan lagi banyak tikus disamping-samping kapal.

Some of snapshot in the afternoon …

Suasana di sore hari

IMG_3741

Ada banyak hal menarik di kapal ini, ternyata dikapal ini disediakan makan siang dan makan malam, walaupun seadanya. Termasuk juga dengan kopi dan air minum. Jadi teringat salah satu maskapai penerbangan, yang walaupun perjalanan dari Jakarta ke Jayapura (8 jam) saja tidak ada diberikan snack atau makanan ringan apapun.  Disisi lain adalah kesederhanaan. Bagi kita yang tidak terbiasa dengan kondisi semacam ini, mungkin tidak terbiasa dan ingin rasanya cepat sampai. Namun bagi mereka yang sudah terbiasa, mereka bisa santai saja selama perjalanan. Ada yang nonton film di laptopnya (sepertinya laptop baru karena masih ada kardusnya), main kartu, bercengkerama dengan sesama penumpang (pasalnya pulau Tomia yang sekecil itu, membuat semua warganya saling mengenal), dan bahkan mereka bisa tidur di luar tanpa alas apapun.

Di dalam kapal

Di dek kapal

Bulan purnama

Satu hal yang bisa saya tarik dari pembelajaran ini adalah bahagia itu sederhana, tergantung bagaimana kita memaknainya. Sampai … Tepat pukul 12 kita sampai. Errick dan Sharm memilih pergi ke Hill House. Sementara kita berempat memilih hotel yang relative murah. Setelah dapat langsung kita bersih-bersih mengingat seharian di kapal dan langsung tidur untuk melanjutkan kegiatan terakhir besok di tanah Buton. ??????????????????????????????? Rincian budget hari ini :

  1. Kapal Permai Indah : IDR 150.000
  2. Penginapan di Bau-Bau : IDR 220.000
  3. Snack-snack ringan selama di kapal
Advertisements

3 responses

  1. aaaaaak wakatobi!! T_______T

  2. @johanesjonaz : sempet donk, ada di catatan hari sebelumnya
    @rintadita : yukk ahhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: