Miranda, Mutiara Kecil Dari Kendari

Miranda, gadis kecil berusia 10 tahun yang dengan penuh kasih sayang merawat ayahnya yang lumpuh seorang diri. Tanpa rasa risih ataupun mengeluh, Miranda memandikan ayahnya, membersihkan kotoran ayahnya, serta membantu ayahnya untuk makan setiap hari. Sebenarnya Miranda memiliki 4 orang kakak dan juga seorang ibu, namun tidak ada satupun dari mereka yang peduli untuk merawat ayahnya. Sempat kakaknya meminta Miranda untuk ikut dengannya, namun Miranda menolak dengan alasan tidak ada yang akan merawat ayahnya kalau bukan dirinya. Si kecil Miranda sempat melontarkan pernyataan “ibu dan kakak hanya menghabiskan uang ayah”. Pak Amri selaku ketua RT bercerita bahwa kakak yang mengajak Miranda tinggal ini sempat juga meminta tabungan Miranda dengan alibi untuk merawatnya. Si kakak mengetahui bahwa saat ini tabungan Miranda cukup besar, ini adalah hasil dari bantuan yang diberikan oleh para sukarelawan.

Pada hari minggu tanggal 2 Maret 2014, saya bersama dengan beberapa teman di Kendari meluangkan waktu untuk menjenguk Miranda dan ayahnya. Beberapa dari teman-teman ini memiliki profesi sebagai jurnalis yang ingin membantu publikasi sebagai bahan advokasi kepada pemerintah local setempat. Awal mulanya berita ini muncul adalah karena peran dari pak Amri selaku ketua RT setempat, dimana beliau mengunggah berita tersebut kedalam social media guna menarik simpati masyarakat. Alhasil banyak bantuan yang datang untuk Miranda dan ayahnya. Hingga akhirnya mulailah media-media meyoroti kondisi ini.

Sangatlah memprihatinkan melihat kondisi Miranda dan ayahnya. Terlebih sang ayah yang hanya bisa terbaring ditempat tidur. Dalam kunjungan ini, ayah Miranda sempat mencurahkan kekecewaannya terhadap anak-anaknya yang seakan tidak peduli kepadanya. Ayah Miranda mendengar bahwa anak tertuanya mengatakan “biarpun ayah meninggal saya tidak akan datang”. Ini diungkapkan ayahnya dengan terisak-isak. Sebenarnya ayah Miranda dulunya adalah orang kaya di Kolaka, hingga akhirnya dia jatuh sakit dan usaha keluarganya dipegang oleh istrinya. Entah bagaimana bisnis yang telah dirintis ayahnya ini bangkrut dan banyak hutang. Istri dan keempat anaknya pergi setelah menjual barang-barang yang dapat dijual untuk membayar hutangnya. Memang bisa dikatakan ini seperti kehidupan sinetron, namun inilah fakta yang ada disekitar kita.

Ada cerita menarik yang disampaikan oleh pak Amri. Miranda meminta pak Amri untuk membelikan sepeda untuk ayahnya. Pak Amri pun bingung mengingat ayah Miranda lumpuh dan tidak mungkin dapat mengayuh sepeda. Namun, Miranda terus merengek untuk tetap minta dibelikan sepeda untuk ayahnya. Hingga akhirnya pak Amri berpikir apakah yang dimaksud adalah kursi roda. Setelah ditanyakan ke Miranda, Mirandapun mengangguk. Pak Amri sangat terkesan dengan perhatian Miranda yang begitu besar kepada ayahnya. Dia mengatakan bahwa terkadang kita yang dianugerahi tubuh normal dan pikiran yang normal belum tentu memiliki kepedulian yang tulus untuk sesama kita. Pak Amri sendiripun tidak menyadari bahwa sang ayah juga membutuhkan kursi roda. Ini membuatnya tersentuh karena ide ini datang dari Miranda, yang berkebutuhan khusus.

Meskipun kini banyak bantuan dan dukungan yang diberikan kepada Miranda dan ayahnya, permasalahan ini tidak berhenti sampai disini saja. Perlu juga dilihat bagaimana perkembangan Miranda kedepan. Miranda mengalami keterbelakangan mental, dan ini membuatnya susah sekali menerima pelajaran di sekolah hingga akhirnya dia tidak mau bersekolah. Miranda sempat duduk di bangku kelas 1 SD selama 4 tahun. Si kecil Miranda belum tahu kebutuhan prioritasnya. Yang dia tahu saat ini hanyalah merawat ayahnya yang terbaring sakit. Sempat berdiskusi dengan teman-teman jurnalis, mereka bercerita bahwa pernah juga disampaikan ke Dinas Sosial Kota Kendari, namun respon yang diberikan sangatlah mengecewakan. Pihak dari Dinas Sosial tersebut menyatakan bahwa ini hanyalah masalah biasa, dan masih banyak masalah lain yang juga jauh lebih parah ketimbang hal ini. Pernyataan ini jelas sangat tidak bertanggung jawab. Beliau seolah-olah ingin cuci tangan dan tidak ingin dibuat repot dengan kondisi seperti ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah kasus yang mungkin terbilang parah menurut beliau juga terselesaikan?

Pak Amri selaku ketua RT setempat juga membantu menyampaikan kondisi ini kepada pemerintah local setempat. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan yang diberikan. Dikatakan dalam Pasal 34, Bab XIV, UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara, hal inilah yang sebenarnya telah diupayakan masyarakat. Hingga kini kami masih menunggu respon dari pemerintah setempat agar dibukakan hatinya untuk lebih peka melihat kondisi fenomena social di masyarakat.

Advertisements

2 responses

  1. Semoga masalah ini segera selesai..
    Salam sayang untuk miranda,

    1. aminnn, yang bikin ngenes respon pemerintah yah, gt bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: