Pulau Saponda, Keindahan Alam Yang Terbengkalai

Sewaktu saya bekerja dengan Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara, saya sempat beberapa kali berkunjung ke Pulau Saponda. Pulau ini terletak di Kecamatan Soropia, dan membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit menyebrang menggunakan speedboat. Nampak dari jauh pulau kecil yang indah, air laut yang biru, pasir putih, dan dipenuhi dengan pohon kelapa. Hal ini membuat saya cukup semangat untuk bisa segera sampai di sana.

DSC_0101

Saat hampir mendekati bibir pantai, tampak di sekeliling kami, air laut yang hijau dan jernih. Membuat beberapa teman berniat untuk segera terjun ke air. Mayoritas penduduk Saponda memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Sehingga selama 3 hari saya berada di Saponda, maka saya tidak akan terlepas dari santapan ikan segar.

Diluar kondisi alam Pulau Saponda yang indah, Pulau ini menyimpan cukup banyak permasalahan sosial yang kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat. Bersama Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara, kami datang membawa program Kesehatan Reproduksi bagi warga, khususnya untuk kaum wanita. Adapun permasalahan sosial yang kami jumpai selama kami berada disana adalah masalah kesehatan, masalah lingkungan, dan masalah laju pertumbuhan penduduk.

DSC_0104

Melihat dari kacamata kesehatan, kita bisa menilai dari sejumlah fasilitas kesehatan yang terbengkalai. Tenaga kesehatan yang kurang maksimal memberikan pelayanan, juga menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi warga Saponda. Pulau Saponda hanya memiliki satu unit Polindes. Tempat inilah yang biasa digunakan Bidan untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat. Namun, jadwal kunjungan Bidan pun tidak menentu, sehingga Polindes inipun seringkali kosong. Obat-obatan yang tersediapun terkadang juga sudah kadaluarsa.

Apabila kita melihat dari permasalahan lingkungan. Hal ini sangat kontradiktif dengan pernyataan saya diawal yang menggambarkan indahnya pulau ini. Sesampai di darat kita akan melihat sebuah kampung yang sangat padat. Hanya lapangan bola sajalah yang merupakan tanah kosong di desa ini. Dan hampir bisa dipastikan, tidak ada tempat yang tersedia lagi bagi warga yang ingin membangun bangunan baru.

IMG_1883

Disisi lain, sampah juga menjadi masalah yang sangat menggangu. Hampir kita bisa melihat disetiap sudut desa, sampah yang dibiarkan tersebar begitu saja. Akibatnya, banyak sekali lalat ditempat ini. Dan bahkan, beberapa warga memilih membuang sampahnya di laut, dengan pemikiran arus akan membawa sampah sehingga tidak akan menumpuk di daratan.

IMG_1879

Mayoritas masyarakat Saponda juga belum memiliki jamban pribadi rumahnya. Mereka lebih memilih untuk buang air besar di laut ketimbang harus membangun jamban pribadi. Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara sempat mengajak warga untuk berdiskusi, terkait dengan masalah sampah dan juga jamban. Namun, mereka masih menganggap ini bukanlah sebuah masalah yang serius. Mengingat dulu sempat dibangun sebuah bak penampung sampah, tetapi tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya.

DSC_0103

Dan yang terakhir terkait dengan laju pertumbuhan penduduk. Dari sumber Suara Komunitas, dikatakan bahwa pada tahun 2012, jumlah penduduk Pulau Sapondaberjumlah 1.613 jiwa dengan 486 KK. Jumlah ini terbilang besar melihat luas wilayah yang hanya ± 100.000 m2. Sehubungan dengan program kesehatan Reproduksi oleh Aliansi Perempuan, kami banyak menggali permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh warga setempat. Pertama, kurangnya informasi yang diberikan oleh para petugas kesehatan terkait dengan informasi soal Keluarga Berencana, maupun alat kontrasepsi. Kedua, minimnya fasilitas yang ada di Polindes. Hal ini membuat beberapa warga yang membutuhkan penanganan khusus menjadi terhambat. Dan yang ketiga, banyak dari warga harus membayar untuk mendapatkan alat kontrasepsi (Pil KB dari BKKBN), baik dari bidan maupun penjual di warung-warung. Pasalnya, produk ini seharusnya diberikan secara cuma-cuma bagi warga miskin, namun ada oknum-oknum yang memperjual-belikan.

Dari sekian permasalahan yang saya paparkan, bisa dikatakan sangat memprihatinkan apabila melihat potensi Pulau Saponda yang dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata di Kendari. Perlu ada upaya pemerintah untuk memperbaiki pola hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan warga, dan meningkatkan sarana dan prasarana. Hal ini penting dilakukan guna membantu meningkatkan taraf perekonomian warga Saponda. Semakin banyaknya orang yang datang ke Saponda, semakin besar peluang usaha yang dapat dilakukan oleh warga Saponda. Pulau Saponda menyimpan begitu besar potensi yang dapat dikembangkan, sehingga amat disayangkan apabila pulau cantik ini terbengkalai begitu saja.

Advertisements

2 responses

  1. Abdul Azis A. | Reply

    terima kasih sudah mengulas sedikit tentang pulau kecil dimana saya dibesarkan
    perkenalkan nama saya Abdul Azis A, saat ini saya tinggal di Jakarta dan bekerja di jakarta pula, melihat foto-foto pulau saponda, rindu saya akan kampung halaman saya itu menjadi besar pula, teringat canda dan tawa Almarhum kakek saya yang di batu nisannya masih ada disana, tante dan sepupu-sepupu saya yang saat ini masih menetap di sana menjadikan saya tidak tahan untuk membendung bulir air mata kerinduan…Semoga saya diberikan umur panjang untuk menengok kampung halaman saya itu entah kapan

    Sekali lagi terima kasih

    1. Terimakasih mas Abdul Aziz sudah berkunjunjung ke page saya.senang rasanya bisa berbagi. Saya juga sempat beberapa kali bermalam di sana. Semoga mas Abdul dapat kesempatan kembali ke sana ya. Salam kenal kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: