Wisata Budaya yang Mempesona

Apa yang ada dibenak kita ketika akan berkunjung ke Toraja? Pastilah wisata tidak lazim, seperti melihat upacara pemakaman, mengunjungi kuburan serta melihat tengkorak. Mari sejenak kita lupakan persepsi yang menyeramkan ini.

Libur lebaran kali ini, saya dan suami akan berkunjung ke Toraja dan Taka Bonerate. Untuk Taka Bonerate saya akan bercerita di blog berikutnya. Saya dan suami hanya akan berkunjung selama dua hari saja. Jadi bisa dibilang kita akan kembali melakukan flashpacking.

Sabtu pagi, sekitar pukul 6, kami memulai perjalanan dari Makassar dengan menggunakan kendaraan pribadi. Waktu tempuh untuk sampai ke Toraja sekitar 6 jam, dengan jarak sekitar 230 kilometer. Sediakan banyak snack dan musik agar perjalanan tidak membosankan.IMG_6561

Tidak terasa kami telah tiba di Enrekang. Di sisi kiri jalan, nampak pemandangan pegunungan yang luar biasa cantik. Hampir setiap saat kami berhenti dan turun dari mobil demi mengabadikan pemandangan cantik ini. Gunung Nona ini menjadi salah satu daya tarik di kota Enrekang.

IMG_7024

IMG_6968

Satu jam kemudian tibalah kita di Tana Toraja. Satu hal yang langsung kita lakukan adalah mencari rumah makan B2 :D. Kami tinggal di Hotel Pison di Rantepao. Wilayah ini cukup ramai dan dekat dengan lokasi wisata ketimbang Makale. Hotel Pison merupakan salah satu hotel rekomendasi Trip Advisor, selain tempatnya bersih juga harganya terjangkau.

Wisata non-mistik
Hari pertama ini, kita berkunjung ke Batutumonga. Dari informasi yang kita peroleh, di Batutumonga kita dapat melihat pemandangan kota Toraja dari atas bukit dan juga sawah-sawah bertingkat. Menurut saya dan suami, pemandangan sawah di Batutumonga jauh lebih indah dibanding dengan Tegallalang di Ubud. Hanya saja promosi pariwisata Toraja tidak sebagus promosi di Bali. Serta tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai, seperti jalanan beraspal dan pagar untuk keamanan jalan.

_MG_6659

_MG_6700

Batutumonga terletak sekitar 1.5 jam dari Rantepao. Jalanannya menanjak dan berkelok-kelok. Kami sempat bertemu dua remaja bule yang menggunakan sepeda untuk sampai tempat ini. Wow. Di Batutumonga sendiri juga tersedia beberapa penginapan dan guest house. Bagi yang ingin melihat pemandangan kota Toraja dari atas bukit pada malam hari, bisa menjadi pilihan untuk tinggal di Batutumonga.

_MG_6677

IMG_6723

Tidak jauh dari Batutumonga, ada Situs Megalith Bori. Di tempat ini, kita bisa melihat batu-batu besar yang konon katanya berusia 300 tahun. Tiket untuk masuk ke lokasi ini hanya Rp 10.000,- bagi turis domestik, dan Rp 20.000,- bagi turis mancanegara. Tempat ini kurang banyak diketahui oleh setiap turis yang berkunjung, lain halnya dengan Londa dan Kete Kesu.

IMG_6751

IMG_6806

IMG_6767

Batu-batu yang ada memiliki ukuran yang berbeda-beda. Sayangnya, sang penjaga situs tidak dapat menjelaskan kepada kami kenapa ada batu dengan ukuran yang berbeda. Penjaga situs hanya memberi tahu bahwa, batu-batu ini dipasang ketika ada yang meninggal. Jadi satu orang meninggal satu batu.

_MG_6803

Suasana Malam Kota Toraja
Dunia malam kota Toraja tidak seramai daerah wisata pada umumnya. Saya dan suami berencana untuk mencari makan malam sambil nongkrong. Ada satu tempat yang nampaknya cukup menarik dari luar, namanya Cafe Aras. Cafe ini nampak ramai sekali, dan ternyata cafe ini salah satu rekomendasi tempat makan dari Trip Advisor. Sayangnya, seluruh tempat sudah dibooking, sehingga mau tidak mau kita mesti mencari tempat lain. Ada satu tempat tidak jauh dari Cafe Aras, namanya Pizza Kanaya. Tempat ini selain menjual pizza, juga menjual aneka kudapan, makanan, serta beragam minuman. Hampir semua yang ada di tempat ini juga para pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri. Mungkin dua tempat ini saja yang saya temukan bagi yang gemar mencari tempat makan sekaligus tempat nongkrong.

Sebenarnya di tempat kita menginap, di Hotel Pison, juga terdapat tempat makan dan sekaligus tempat nongkrong. Hanya saja kita baru tahu setelah akan kembali ke kamar untuk beristirahat.

Wisata Budaya
Saya menyebutnya wisata budaya, padahal mungkin bagi yang membaca akan mengatakan “ini ma wisata kuburan juga”. Saya menyebut wisata budaya karena Toraja memiliki sebuah tradisi yang unik dalam pemakaman jenasah. Apabila di Jawa, di Sumatra, dan tempat lain, mayat biasanya dikubur, lain halnya dengan di Toraja. Mayat diletakan di dalam peti yang biasanya ditaruh di gua-gua.

_MG_7053

_MG_6937

Saya dan suami mengunjungi Kete Kesu dan Londa. Kedua tempat ini merupakan dua primadona wisata Toraja. Di Londa kita bisa masuk hingga ke dalam gua dan melihat tengkorak di dalamnya. Antara Kete Kesu dan Londa tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit.

Kami menggunakan guide saat berkunjung ke Londa. Pasalnya untuk masuk ke dalam gua membutuhkan penerangan yang jasanya disewakan oleh para guide. Londa memiliki ciri khas pemakaman di dalam gua. Di bagian atas gua biasanya digunakan untuk meletakkan jasad mereka yang merupakan kaum keturunan tertentu. Biasanya kaum ini meletakkan juga harta benda di dalam peti. Sehingga disengaja untuk meletakkannya di bagian atas gua, agar tidak ada yang mengusik benda-benda tersebut.

IMG_6960

Saya sempat bertanya-tanya, apakah tidak pernah ada kejadian mistik yang dialami pengunjung selama berkunjung ke tempat-tempat ini? Sang guide menjelaskan, memang ada. Tetapi biasanya itu adalah imbas bagi mereka yang tidak menghormati jasad dan bertindak sesuka hati. Sebagai contoh, mereka suka mengangkat tengkorak dan memindahkan posisinya sesuka hati. Pasalnya, untuk pemindahan tengkorak saja pihak keluarga akan menyelenggaran upacara.

_MG_7113

_MG_6965

Di Londa, ada satu pasang tengkorak yang sengaja diletakkan berdampingan. Guide kami menjelaskan bahwa kedua tengkorak ini adalah tengkorak milik sepasang kekasih yang tidak direstui semasa hidupnya. Karena tidak direstui, keduanya akhirnya bunuh diri bersama-sama.

IMG_6942

Kalau kita mencari tahu mengenai Kete Kesu, pastilah jajaran Tongkonan yang menjadi ikon khasnya. Toraja memang terkenal dengan Tongkonannya, yang biasa digunakan sebagai lumbung padi sewaktu panen. Lain hanya dengan Londa, di Kete Kesu kuburannya lebih banyak diletakkan di dinding-dinding gunung. Sehingga pengunjung agak dibuat sedikit menanjak.

IMG_6840

IMG_6845

_MG_6878

Di Toraja masih terdapat keyakinan warga mengenai mayat orang bisa dibangkitkan kembali. Namun, kondisi ini sudah sedikit berkurang mengingat hal ini bertentangan dengan ajaran agama Kristen yang menjadi keyakinan mayoritas penduduk Toraja.

Pengalaman pertama saya dan suami ke Toraja sangat berkesan. Pemandangan dan budayanya yang unik jarang ditemukan di wilayah lain.

Advertisements

3 responses

  1. Reblogged this on YERMIA R SANTIAGO and commented:
    Cerita dari toraja..

    1. Terimakasih, salam kenal juga ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: