KESABARAN, Point Penting Demi Pendidikannya

Autisme, istilah yang bisa dibilang kini sudah tidak asing lagi bagi kita. Mengingat semakin meningkatnya jumlah autisme di Indonesia. Autisme adalah bentuk lain anak-anak dengan kebutuhan khusus. Anak yang terindikasi autisme memiliki permasalahan dengan pola hubungan sosial, emosi, pola perilaku, dan aktivitasnya. Terkadang autisme sering dikaitkan dengan permasalahan psikologi anak. Jelas ini bukan pernyataan yang tepat, karena autisme merupakan gangguan mental yang menyerang pada fungsi otak.

Hal inilah yang dialami Antonia, seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Antonia terindikasi autisme sejak dia berusia 2 tahun. Saat itu, kedua orang tuanya melihat perilaku-perilaku yang aneh dari si anak, nampak bahwa Antonia selalu fokus pada hal-hal tertentu, sehingga mengabaikan sekelilingnya, selain itu Antonia selalu mengulang kata-kata yang ia dengar. Maka kedua orang tuanya membawa Antonia ke psikiater untuk memeriksakan kondisi anaknya.

Dokter menyatakan bahwa Antonia terindikasi autisme, apabila dilihat dari beberapa karakter gejala autisme, yang adalah sebagai berikut anak selalu melakukan gerakan berulang-ulang, asik dengan dunianya sendiri, tidak suka dengan adanya perubahan disekitarnya, terlambat dalam belajar berbicara, serta selalu menghindari kontak mata. Dokter menyarankan kepada kedua orang tua Antonia untuk membawa Antonia melakukan pemeriksaan otak, karena inilah permasalahan utama dalam autisme, menggangu fungsi kerja otak.

Selama satu tahun, kedua orangtua Antonia, merasa frustrasi dengan nasib anaknya kedepan. Mereka merasa tidak ada harapan lagi bagi anaknya untuk memiliki masa depan yang cerah seperti anak-anak pada umumnya. Dalam satu tahun ini, kedua orangtua Antonia selalu mendampingi buah hatinya, dan mengawasi semua perilakunya. Nampak, Antonia terkadang menjadi pembangkang dan susah diatur, disisi lain dia nampak sangat penurut. Kedua orangtua Antonia, masih dengan sabar selalu mendampingi putrinya.

Semua saran, dan hal-hal yang dianjurkan dokter sudah dilakukan, mulai dari melakukan terapi rutin, mengatur pola makannya menjadi vegetarian. Namun, ada hal yang membuat kedua orangtua Antonia putus asa, yaitu bahwa autisme tidak dapat disembuhkan. Mereka merasa percuma melakukan semua hal ini, apabila hasilnya tidak dapat membuat anak mereka menjadi tumbuh normal kembali.

Hingga akhirnya, ada salah seorang rekan kerja ayah Antonia, Pak ronald, yang menyarankan untuk dibawa ke sekolah khusus anak-anak dengan syndrome autisme, kebetulan rekan ayah Antonia kenal dengan pemilik sekaligus konsultan sekolah lanjutan autisma tersebut. Karena merasa sudah tidak memiliki pilihan lagi, maka kedua orangtua Antonia mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Di sekolah itu, ada sekitar 6 anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan Antonia. Jadilah Antonia yang saat itu berusia 4 tahun memulai masa-masa sekolahnya.

Hari pertama sekolah, mama Antonia menghantar dan juga menungguinya dengan sabar. Mengajarkan anaknya apabila ada sesuatu yang tidak diketahui. Antonia sering menangis tanpa sebab yang jelas, berteriak-teriak, hal inilah yang membuat mamanya selalu mendampingi anaknya. Hal ini terjadi pula dihari pertamanya dia sekolah.

Hari kedua. Antonia mulai belajar menggambar dan mengenal angka. Secara penangkapan, Antonia nampak cerdas, dia mudah menangkap semua yang diajarkan gurunya. Beda dengan hari pertama, di hari kedua Antonia mulai berinteraksi dengan teman-teman yang lain, meskipun tidak menunjukkan hasil baik yang signifikan. Dia masih nampak takut dan berhati-hati.

Hari ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Antonia tetap rajin sekolah dengan mamanya yang setia mendampinginya. Hingga saat ini, dia berusia 7 tahun. Mamanya yang selalu setia mendampinginya. Sekilas kita melihat mama Antonia nampak sabar dalam mendampingi anaknya, namun tahukah kita apa saja kendala yang dialaminya? Pernah seketika, mama Antonia menemui konsultan disekolah anaknya belajar. Dia menyatakan keluh kesahnya selama ini, dan merasa berat sekali. Bagaimana tidak berat, apabila melihat anaknya tiba-tiba berteriak histeris, susah berkomunkasi, ditambah dengan bayangannya sebagai orang tua melihat bagaimana masa depan anaknya kelak.

Konsultan tersebut, nampak sudah sangat mengenal orang tua yang menyatakan hal serupa. Dengan sabar dia memberi gambaran nyata mengenai autisme. Memang benar autisme tidak dapat disembuhkan, dan hingga saat ini tidak ada yag bisa kembali menjadi normal. Namun, itu bukan hambatan untuk tetap berhenti dipermasalahan ini saja. Konsultan tersebut memberikan kata-kata yang menguatkan mama Antonia, dia mengambil dari salah satu buku Donny Dhirgantoro berjudul β€œ2”. Dikatakan bahwa jangan pernah menganggap remeh kekuatan manusia, karena Tuhan sendiripun tidak pernah. Ada banyak orang autis yang pada akhirnya berhasil menjadi orang yang hebat, seperti Einstein, Leonardo da Vinci. Dan tidak perlu jauh-jauh sorang Indonesia bernama Oscar Yura Dompas, dia berhasil meraih rekor muri karena menjadi seorang sarjana dan penulis buku “Autistic Journey dan The Life of the Autistic Kid Who Never Gives Up” .

Menutup proses konsultasi ini, sang konsultan hanya berpesan selain melakukan terapi rutin dan mengatur pola makan, kesabaran dan perhatian extralah yang sangat dibutuhkan Antonia. Dari hasil belajarnya, Antonia nampak memiliki bakat dibidang menulis. Dia pernah mengikuti kontes menulis yang diadakan tingkat kabupaten dikotanya. Saat itu saingan Antonia adalah semua anak yang berbeda dengan dirinya. Berdasarkan hal inilah, kedua orang tua Antonia dan dibantu dengan gurunya semakin membimbing dan mengarahkan Antonia ke arah yang sesuai dengan minatnya. Antonia semakin sering mengikuti kompetisi-kompetisi menulis untuk anak seusianya.

Saat ini, diusianya yang ke 17 tahun, Antonia sudah memiliki sebuah buku. Buku berbentuk kumpulan dongeng-dongeng yang dia ciptakan sendiri. Sedari kecil mama selalu membacakan dongeng untuknya sebelum tidur, dan ini berlangsung hingga usianya menginjak 15 tahun. Meskipun tekadang ceritera yang disampaiakn hanya diulang-ulang saja. Pencapaian ini, membuat mama dan papa serta seluruh keluarga Antonia merasa bangga. Karena apa yang selama ini mereka pikirkan tidak mungkin ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Jangan pernah meremehkan kekuatan manusia, karena Tuhan sendiripun tidak pernah meremehkan kemampuan kita.

Kiranya kisah ini berguna terutama bagi para orang tua dan keluarga dari anak syndrom autisme untuk semakin memahami bahwa gejala autisme bersifat individual. Antara anak yang satu dengan anak yang lain akan berbeda penanganannya. Dalam buku Torey Hayden, Sheila : Kenangan Yang Hilang, diceriterakan tentang bagaimana Torey sebagai seorang guru memperlakukan anak-anak didiknya. Terutama bagi Sheila yang diceriterakan bahwa sulitnya menangani anak ini. Torey nampak lebih fokus, dan lebih keras dalam menghadapi Sheila. Namun, dalam ketegasannya mendidik Sheila dia tetap sabar dan lebih memahami Sheila secara personal dan permasalahannya.

Kesabaran, perhatian, dan konsistensi dalam penanganan anak-anak syndrom autisme merupakan keharusan. Ini menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus terutama autisme adalah sebuah fenomena perjalanan anak yang panjang. Peran orang tua, keluarga, dan guru pengajar menjadi sangat penting dalam upaya menggali bakat-bakat dan juga potensi-potensi yang dimiliki anak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: