“Nanti Juga Ada Yang Bersihkan”

Dua hari lalu saya berkesempatan hadir di acara Launcing Buku berjudul “Masa DPan Makassar”. Sebuah buku yang berisi tentang kumpulan tulisan mengenai masa kerja 100 hari Walikota-Wakil Walikota Makassar saat ini, Danny Pomanto dan Daeng Ical (DIA). Buku ini tidak hanya berisi pujian, namun juga sarat dengan kritikan terhadap kinerja kedua pemimpin kota Makassar ini.

Danny Pomanto memiliki latar belakang arsitektur, dan dikaitkan dengan salah satu visinya ketika kampanye adalah membuat Makassar menjadi kota dunia yang nyaman untuk dihuni. Sejenak jadi berfikir tentang sosok Ridwan Kamil, Walikota Bandung saat ini. Beliau juga memiliki background arsitektur, dan banyak sekali perubahan yang sudah dilakukan dalam mengubah wajah kota Bandung. Ridwan Kamil juga salah satu penggagas Indonesia Berkebun, yang kini komunitasnya banyak tersebar diberbagai kota di Indonesia, termasuk juga Makasar.

IMG_1879

Kesamaan ini membuat saya berharap dengan DIA mampu membawa perubahan infrastruktur pelayanan publik yang lebih baik. Permasalahan utama yang dihadapi Makassar saat ini adalah sampah. Pola hidup masyarakat didukung dengan pelayanan publik terkait pengelolaan sampah yang kurang maksimal membuat sampah menjadi permasalahan utama. Lihat saja daerah Losari., yaitu di Anjungan Losari. Sunset di Losari merupakan salah satu sunset tercantik di Indonesia, sehingga ini membuat Losari menjadi destinasi favorite bagi pengunjung.

Dahulu, Losari hanya sebatas jalanan panjang yang berjejer aneka warung dan jajanan di sepanjang pantai. Hingga akhirnya diubah menjadi sebuah anjungan yang dapat dimaksimalkan pengunjung agar nyaman selama menikmati sunset. Namun, apakah benar nyaman? Pengalaman saya dan beberapa teman yang pernah berkunjung bisa dibilang tidak nyaman. Banyak sampah dan fasilitas tidak terkelola dengan baik. Memang sangat disayangkan melihat kondisi ini. Pernah pemerintah daerah melakukan penertiban dengan mengusir pedagang yang tidak mau menjaga kebersihan, namun para pedagang memberontak dengan alasan mereka sudah membayar uang retribusi kebersihan, sehingga sudah menjadi tanggung jawab petugas untuk membersihkan. Kondisi ini memang menunjukkan belum sadarnya masyarakat untuk bertanggung jawab menjaga kebersihan. Persepsi yang selalu dibangun adalah “nanti juga ada yang membersihkan”. Hal ini sesuai dengan jargon yang dibuat oleh DIA, yaitu LISA (lihat sampah ambil). Secara umum bagus, tapi tanpa mengedukasi warga terlebih dahulu hal ini tidaklah efektif. Alibi-alibi pembenaran akan tetap terus ada, sehingga kesadaran diri sendiri untuk membuang sampah sulit terbentuk.

Sebagus apapun sebuah tempat, seindah apapun tempat wisata, nilainya akan turun apabila banyak sampah berserakan dan tidak ada pengelolaan sampah yang benar. Pernah ke Pantai Bira, di daerah Bulukumba? Pantainya bagus, pasir putih dan air laut yang biru bening. Namun sayang, semakin banyak pengunjung, sudah pasti akan banyak sampah berserakan. Pola pikir “nanti juga ada yang bersihkan” masih sangat kuat melekat.

Ditambah musim penghujan saat ini. Banjir sudah pasti menjadi momok bagi warga Makassar. Saya tinggal di daerah Mappanyukki, yang notabene tidak jauh dari Rumah Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Dan setiap hujan deras datang, banjir sudah pasti di depan mata. Seumur hidup baru mengalami banjir selama tinggal di Makassar. Di depan kost saya banjir sudah diatas mata kaki. Untuk daerah utama dan juga dekat dengan Losari, hal ini sangat mengganggu demi kemajuan pariwisata. Salah satu penyebabnya juga adalah sampah yang menumpuk di selokan. Salah seorang tetangga berujar “ini selokan tidak pernah dibersihkan makanya sampah menyumbat aliran air”. Sebenarnya bukan sampah diselokan yang tidak dibersihkan, namun kenapa buang sampah di selokan?

Pola pikir “nanti juga ada yang bersihkan” selalu menjadi alibi tidak bertanggung jawab. Sehingga edukasi, sosialisasi ke masyarakat dan sistem denda seperti yang dilakukan Ridwan Kamil di Kota Bandung perlu juga diterapkan, daripada sekedar sosialisasi jargon “LISA”. Sampah adalah musuh bersama, sehingga pemberantasannya tidak hanya menunggu orang lain bertindak, pemeintah bertindak, namun kita semua. Fight for rubbish!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: