Kopi Sanger, Karena Kopi Tak Harus Pahit

Kamu tahu, hal paling berkesan justru saat perjalanan tak berjalan sesuai dengan rencana kita. Inilah mengapa saya begitu gandrung traveling.

***

Kala itu, libur natal, saya dan suami menghabiskan waktu untuk mengunjungi keluarga di Medan. Libur panjang ini kami sempatkan juga mengunjungi Pulau Weh, lokasi nol kilometer di ujung barat Indonesia.

Rencana awal, kami tiba di Kota Banda Aceh dan langsung melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Pulau Weh. Delaynya pesawat yang kami tumpangi merubah semua rencana perjalanan hari itu. Sampai di pelabuhan, kami harus merelakan kapal yang harusnya kami tumpangi telah berlayar meninggalkan kami. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu berkeliling Kota Banda Aceh dan mencicipi beberapa kulinernya yang khas.

Saat itu hujan turun cukup deras. Suhu udara membuat kulit meremang. Pergilah kami ke pusat Kota Banda Aceh di Kawasan Ulee Kareng untuk mencari kuliner yang bisa menghangatkan badan. Kami naik becak motor saat itu. Ya, di tempat ini naik becak motor menjadi pilihan tepat, pasalnya menjelang sore hingga malam hari, kota ini cukup sepi dan minim kendaraan umum.

Banda Aceh, Kota Seribu Warung Kopi”

kopi sanger

Memasuki Kawasan Ulee Kareng, saya terkesima. Hampir tiap meter sepanjang perjalanan menuju Kawasan Ulee Kareng, terdapat warung kopi di pinggir jalan. Kami putuskan untuk berhenti di salah satu warung kopi. Secangkir kopi hangat di tengah hujan, apa yang lebih nikmat dari itu?

Dari hasil meramban di dunia maya, kami menjatuhkan pilihan ke Warung Kopi Solong. Ia merupakan salah satu ikon warung kopi yang cukup terkenal di sini.

Dan akhirnya sampailah kami di Warung Kopi Solong. Sepintas dari luar warung kopi ini tidak berbeda jauh dari warung-warung kopi yang berada di sekitarnya. Untuk ukuran sebuah warung kopi, Warung Kopi Solong tergolong luas. Nampak hampir semua meja terisi oleh beberapa pria yang tengah bercengkerama sambil menikmati Kopi Sanger. Ya, hampir semua warung kopi di Kota Banda Aceh menjual Kopi Sanger, kopi susu khas yang wajib dinikmati saat berkunjung ke Kota Banda Aceh.

Di bagian belakang terdapat sebuah meja melingkar seperti mini bar, tempat untuk meracik kopi-kopi yang dijajakan. Karena tempatnya yang terbuka ini, maka pengunjung pun bisa melihat secara langsung proses pembuatan Kopi Sanger.

Penasaran dengan kopi sanger, kami pun memesan dua gelas kopi susu yang menjadi produk andalan warung kopi ini. Awalnya saya sempat ragu. Saya memiliki riwayat sakit maag. Saya khawatir apabila kopi ini terlalu pahit. But let we see!

Manisnya Kopi Sanger

kopi sanger

Segelas kopi tersaji di depan kami masing-masing. Nampak buih-buih seperti busa di atas permukaan kopi. Kopi Sanger merupakan campuran dari kopi hitam, susu kental manis, dan gula, sekilas mirip dengan cappuccino. Namun Kopi Sanger bukanlah kopi susu biasa. Tegukan pertama, saya kecap-kecap mulut saya. Tak ada rasa pahit tertinggal! Aromanya khas, perpaduan wangi lembut bubuk kopi dengan manisnya susu.

Penasaran, kami pindah tempat duduk mendekati si pembuat. Saya tertarik melihat dari dekat proses pembuatan Kopi Sanger.

“Kopi Sanger tidak hanya diseduh saja, tetapi disaring dan juga sedikit dikocok,” si abang yang tengah membuat Kopi Sanger menjelaskan saya sambil menunjuk alat penyaring yang mirip dengan kaos kaki panjang. Saringan panjang berbentuk kerucut yang terbuat dari bahan kain halus inilah yang menjadi salah satu kunci nikmatnya Kopi Sanger.

“Semua warung kopi di sini pasti menggunakan alat ini,” ujar pria muda berambut ikal itu sambil memasukkan kopi yang telah diseduh ke dalam saringan untuk proses penyaringan.

“Perempuan biasanya suka Kopi Sanger, karena kebanyakan perempuan jarang yang suka kopi hitam,”. Saya tersenyum mendengarnya. Ternyata kekawatiran saya di awal tidak terbukti. Pasalnya minum kopi yang terlalu asam dan pahit sering membuat ulu hati mulai melilit. Namun berbeda dengan Kopi Sanger, meskipun sedikit pahit namun tetap nikmat dengan adanya sedikit tambahan susu kental manis di dalamnya.

Kami mengobrol banyak. Si abang menjelaskan, biji kopi yang digunakan di sini bukan kopi gayo, mereka menggunakan biji kopi robusta dari Lamno Aceh Jaya yang diracik sendiri.

***

Roti bakar dengan selai srikaya menjadi pelengkap sajian Kopi Sanger kami kala itu.  Kopi Sanger memiliki harga yang relatif terjangkau, sehingga menambah beberapa gelas lagi pun tak perlu khawatir merogoh kantong terlalu dalam, sebagaimana halnya menikmati secangkir kopi di kafe-kafe elit.

Nambah beberapa gelas? Ya, rasanya memang membuat ketagihan. Saya yang bukan pecinta kopi ini telah membuktikannya.

Tulisan ini telah dipublish di website http://phinemo.com/kopi-sanger-karena-kopi-tak-harus-pahit/

Advertisements

2 responses

  1. nampakkk enakkkk…..kalau ditambahin es jadi kayak ice coffee yg banyak dijual di Thailand kali ya?

  2. Dan pada 12 Oktober bersama Komunitas @iloveaceh kita deklarasikan sebagai Hari Sanger Sedunia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: