Guru Inspiratif, Aset Bangsa Yang Berharga

26120640-Notepad-laptop-and-coffee-cup-on-wood-table-View-from-above-Stock-Photo

A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron. — Horace Mann —

Guru seringkali diartikan sebagai tenaga pendidik yang memiliki kewajiban dalam mendidik, mengajar, membimbing, serta mengarahkan anak didiknya dalam sebuah sistem pendidikan formal. Dalam hymne lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Sartono sang pengarang lagu tersebut menyebut bahwa guru sebagai patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Gelar sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” layak diberikan bagi sosok guru yang mengabdikan hidupnya untuk membangun bangsa melalui pembentukan karakter generasi muda tanpa mengharapkan imbalan. Keberhasilan mereka tidak terbatas pada perolehan penghargaan maupun apresiasi semata, namun lebih kepada keberhasilan anak-anak didiknya.

Sebagai sebuah pekerjaan yang mulia, guru memiliki peran besar dalam menghasilkan sumber daya manusia berkualitas. Meskipun demikian, menjalani profesi menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran serta kreativitas dalam menciptakan metode belajar yang menarik dan inspiratif.

Dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Guru Inspiratif”, Ngainun Naim memberikan pemaparan bahwa dalam tipologi umum, guru dapat terbagi menjadi dua macam, yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum terbatas pada output dimana mereka mampu mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum. Tolok ukur keberhasilan mereka adalah apabila anak didik mereka mampu memperoleh nilai bagus pada mata pelajaran yang diajarkan. Biasanya mereka menggunakan metode transfer ilmu dan menuntut anak didiknya mampu menghafal isi buku yang dianjurkan sesuai dalam kurikulum

Kedua adalah guru inspiratif. Mereka adalah sosok guru yang memiliki orientasi melebihi tuntutan kurikulum, mereka memiliki hasrat dalam mengembangkan potensi anak didiknya. Melalui metode mengajarnya, sosok ini mengajak siswanya untuk dapat berpikir kreatif serta mampu berpikir out of the box.

Meskipun berbeda, kedua tipe guru ini dibutuhkan untuk dapat saling melengkapi dalam metode mengajar pada sistem pendidikan di Indonesia, hanya saja porsi tipe guru inspiratif masih terbilang   sedikit dibanding dengan tipe guru kurikulum. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman pribadi selama bertemu dengan sosok-sosok guru inspiratif yang konon terbilang langka dalam sistem pendidikan di Indonesia. Mereka memberikan materi belajar melalui metode yang menarik dan mudah diterima para siswa melalui pendekatan kontekstual.

Pengalaman bermula saat saya mendapat kesempatan bekerja dan melayani pada sebuah yayasan sosial di Keerom, Papua. Disini saya belajar mengenai sebuah metode yang menurut saya pribadi terbilang baru, meskipun pada kenyataannya telah banyak pihak yang tanga radar telah mengimplementasikan metode tersebut. Tidak hanya sosok-sosok inspiratif yang ingin saya ceritakan, namun juga melalui pengalaman pribadi saya saat berinteraksi dengan anak-anak sebagai guru satu hari di Kelas Inspirasi.

“Mengajar dengan memahami konteks lokal”

Salah satu program yang kami bawa melalui yayasan tempat saya melayani 2 tahun silam adalah MBS PAKEM atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan (PAKEM). Metode ini kini kian banyak diterapkan diberbagai sekolah, utamanya di tingkat sekolah dasar. Yang menarik di sini adalah metode PAKEM. Metode ini secara umum menggunakan metode pembelajaran aktif, dimana siswa tidak sepenuhnya menjadi objek pendengar namun sebagai pelaku utama dalam pembelajaran. Guru hanyalah sebagai pembimbing yang membantu mengarahkan anak didiknya dalam pembelajaran serta memberikan motivasi.

Sehubungan dengan tema tulisan ini, dapat dikatakan bahwa guru inspiratif adalah mereka yang menerapkan metode PAKEM. Mengapa metode ini dapat membuat guru terbilang inspiratif? Metode PAKEM digunakan untuk mendorong anak-anak lebih aktif dalam proses belajar dan mengembangkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan adanya perubahan pada diri anak ke arah yang positif.

Sedikit mengutip dari National Board For Proffesional Teaching Standar, disebutkan 13 kriteria  guru inspiratif, yaitu menguasai materi pelajaran dengan baik; mampu menggunakan dengan tepat kemampuan dalam mengajar dan belajar; mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan instruksional pembelajaran; mampu melakukan improvisasi dalam mengajar; mampu melakukan manajemen kelas dengan balk; memiliki kepekaan dalam menanggapi situasi selama pembelajaran berlangsung; memiliki sensitivitas terhadap konteks; mampu memonitor pembelajaran; selalu bertindak berdasarkan data; respek terhadap orang lain; mempunyai jiwa yang mendidik; mampu memfasilitasi murid agar mencapai prestasi tertinggi; dan mampu memfasilitasi murid agar lebih memahami kompleksitas.

Melihat uraian tersebut tidaklah mudah menjadi guru yang inspiratif. Dibutuhkan beragam kemampuan dalam mengembangkan potensi diri sendiri untuk bisa menginspirasi orang lain. Plato  pernah berkata Good actions give strength to ourselves and inspire good actions in others, yang dapat diartikan bahwa untuk dapat memberikan inspirasi kepada orang lain, kita pun perlu mengkapasitasi diri kita terlebih dahulu. Karena di sini guru pun memiliki peran sebagai role model yang secara kasat mata dilihat oleh anak-anak didiknya.

Yayasan tempat saya bekerja melakukan pendampingan kepada dua sekolah yang menjadi pilot project penerapan metode MBS PAKEM di Keerom, Papua. Hal ini bermula dengan menggali potensi konteks lokal dan mengimplementasikan ke dalam metode pembelajaran di sekolah.

Keerom merupakan sebuah kabupaten yang berlokasi di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Wilayah ini sering kali rawan dengan kasus kekerasan dan konflik sosial lainnya, seperti KDRT dan peredaran miras yang terlampau bebas. Mengingat belum adanya Perda yang mengatur hal tersebut pada waktu itu. Atas dasar kondisi sosial inilah kemudian diangkat tema besar dalam metode PAKEM yang adalah ‘budaya ramah anak’ sebagai tema pembelajaran kontekstualnya. Melalui tema kontekstual ini, guru diajak berperan aktif untuk mampu menciptakan permainan-permainan yang mampu mempererat hubungan antar siswa. Di SD Inpres 1, Bu Leny salah satu guru dari sekolah yang menjadi pilot project ini memulai dengan mengubah susunan kursi duduk para siswa dengan posisi melingkar. Susunan tempat duduk ini memiliki tujuan dimana para murid dapat melihat guru serta media visual yang digunakan dalam pembelajaran dengan lebih jelas. Di sis lain, mereka pun dapat saling berhadapan satu dengan yang lain demi mendukung tema kontekstual dalam metode pembelajaran ini.

Tidak saja terkait posisi duduk para siswa, guru agama ini pun membuat pembelajaran tematik dengan menggunakan konteks lokal seperti membuat media belajar dari bahan-bahan yang berasal dari barang bekas. Bu Leny teringat saat mengikuti pelatihan, disitu dikatakan bahwa anak-anak adalah sosok yang visual, sehingga menggunakan media visual dalam pembelajaran akan dirasa lebih efektif. Ia pun semakin termotivasi mencari ragam metode belajar yang menarik balk melalui buku ataupun internet.

Ketika kami melakukan monitoring dan evaluasi, hasil yang diharapkan pun mulai nampak. Mengingat angka putus sekolah yang cukup tinggi di wilayah ini, kini menjadi semakin berkurang. “Memang belum semua akhirnya kembali lagi ke sekolah, namun angka malas sekolah semakin berkurang. Kata anak-anak metode yang kami gunakan sekarang lebih menarik karena mereka bisa bermain sekaligus belajar, tidak hanya belajar terus-menerus,” ujar Ibu Leny.

Mencermati ketiga belas kriteria mengenai guru inspiratif, terbersit pengalaman saya ketika SMP. Mungkin ketika itu saya belum mengenal apa itu metode PAKEM, namun pengalaman yang saya terima menggambarkan hal tersebut. Saya memiliki guru bahasa Inggris bernama Bu Esther. Ketika itu, pelajaran Bahasa Inggris masih menjadi momok tersendiri bagi kami, pasalnya oleh guru-guru sebelumnya, kami diajar dengan metode yang teresan monoton, yaitu membaca text, mengartikan kata-kata asing, mencatat pola kalimat, menjawab soal dan metode standar lainnya.

Berbeda dengan Bu Esther, dia tidak hanya mengajarkan metode pembelajaran formal yang wajib diajarkan, namun yang lebih penting adalah ia memberikan semangat belajar bahwa Bahasa Inggris sangatlah menyenangkan. Dan setiap akan memulai pelajaran, dia selalu mengajak kami bermain permainan ala James Bond, yang ia namakan 007 Bang Bang. Permainan ini mengajarkan kami untuk meningkatkan konsentrasi selama belajar serta ice breaking ketika kami mulai mengantuk. Permainan ini pun menjadi permainan favorit kami saat itu.

Bu Esther sering memberikan kami tugas-tugas, balk individu maupun kelompok. Tugas-tugas yang diberikan pun lebih seperti refreshing bagi kami saat itu. Sebagai contoh, kami mendapat tugas untuk mempersiapkan lagu-lagu favorit kami dalam Bahasa Inggris. Melalui tugas ini, kami belajar pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan menyanyikan lagu favorit kami. Sekilas nampak seperti kelas vocal, namun kami mangat menikmati. Kami diminta untuk terlebih belajar mengucapkan kata-kata dalam lagu tersebut, dan sesering mungkin mendengarkan agar kami terbiasa mendengar pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris.

Untuk writing class, Bu Esther mengajak kami mengarang sebuah cerita mengenai tokoh favorit kami, bisa artis maupun penyanyi. Ia pun memberi contoh tulisan singkatnya mengenai The Corrs, kebetulan Bu Esther adalah penggemar berat group band bersaudara ini. Melalui tulisannya dia bercerita tentang segala sesuatu tentang The Corrs. Kadang ia meminta kami berpasang-pasangan dan saling berkirim surat, yang juga harus ditulis dalam Bahasa Inggris.

Tugas-tugas yang ia berikan membuat kami semakin aktif dan menyukai pelajaran ini. Pasalnya, Bu Esther memberikan kami kebebasan dalam berekspresi, tidak melulu hanya mengerjakan soal-soal yang terkesan mengungkung pemikiran kita tanpa kita bisa berkreasi. Biasanya Bu Esther meminta kami membacakan hasil tulisan kami di depan kelas. Kami pun dengan percaya diri membacakan cerita mengenai tokoh idola kami masing-masing. Di sini kami juga diajak untuk berlatih mendengarkan pengucapan dan pelafalan kosa kata dalam Bahasa Inggris.

Dari pengalaman bersama Bu Esther kini saya menyadari bahwa Bu Esther mengajar kami dengan secara tidak langsung menerapkan metode PAKEM sebagaimana penjelasan singkat di atas. Meskipun mungkin kala itu Bu Esther sendiri belum mengenal seperti apa metode ini. Ia terlebih dahulu mengenal karakteristik kami yang saat ini tengah menginjak usia remaja. Bahkan ia juga mengetahui apa yang menjadi kesukaan kami saat itu. Apa yang dilakukan Bu Esther saya yakini bahwa ia mencari tahu dan mengenal terlebih dahulu karakter kelas yang akan dia ajar, baru menentukan strateginya dalam mengajar. Meskipun demikian, ia tetap memberikan materi sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Hal ini sebagaimana sempat saya singgung di awal bahwa guru kurikulum dan guru inspiratif tetap diperlukan dalam sistem pendidikan kita.

“Menjadi Guru Dimana Saja dan Bagi Siapa Saja”

Saat saya bekerja di sebuah LSM di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, saya berkesempatan menghadari sebuah pertemuan dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A ) Kota Kendari yang saat itu tengah membahas mengenai program bagi anak-anak jalanan di Kota Kendari. Pertemuan ini dihadiri oleh pihak-pihak terkait yang memiliki concern dalam program tersebut. Salah satu peserta yang hadir adalah dari komunitas bernama Komunitas Anak Jalanan Kota Kendari (KOJAK).

Dalam pertemuan ini, KOJAK diwakili oleh salah satu perwakilannya. Dalam diskusi ia menuturkan mengenai apa itu KOJAK, apa yang dilakukannya, dan bagaimana menggerakan komunitas ini. Komunitas ini bermula dari keprihatinan beberapa pemuda asal Kendari atas semakin banyaknya anak-anak usia sekolah yang bekeliaran di jalan. Banyak dari anak-anak ini juga termasuk anak-anak yang putus sekolah karena lebih memilih untuk berada di jalan demi mendapatkan sejumlah uang. KOJAK semula melakukan pendataan di beberapa titik di wilayah Kota Kendari yang dinilai menjadi tempat beroperasinya anak-anak tersebut.

Sekitar kurang lebih 60-an anak terdata dalam survei yang dilakukan oleh KOJAK. Mereka pun berasal dari berbagai macam golongan dan motivasi. Apa yang dilakukan KOJAK adalah memberikan pendidikan seperti membaca dan menulis serta pemahaman mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan para anak-anak jalanan. Metode mengajar pun mereka buat semenarik mungkin dengan ragam permaianan serta kegiatan-kegiatan yang bersifat praktikal, sehingga anak-anak semakin tertarik dan lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran yang diberikan. Komunitas ini terdiri dari para mahasiswa dan juga pelajar yang memiliki hasrat untuk berbagi bagi sesama. Meskipun terkendala jadwal kuliah dan belajar mereka tetap konsisten menyediakan waktu satu kali dalam seminggu.

Selain KOJAK ada juga Gerakan Kendari Mengajar. Gerakan ini terinspirasi dari gerakan besutan Anies Baswedan, yaitu Indonesia Mengajar. Komunitas ini berbagi dengan anak-anak di SD-SD pinggiran di Kota Kendari. Mereka mengajar pada sore hari di luar jam pelajaran anak-anak, sehingga  tidak mengganggu jalannya proses belajar-mengajar formal di sekolah. Para guru-guru muda ini pun mengajar dengan menggunakan metode PAKEM seperti yang saya singgung di atas. Hal ini terlihat dari metode belajar yang digunakan, semisal Treasure Hunt, bentuk permainan untuk membantu anak-anak mengenal kosakata dalam Bahasa Inggris. Ada juga metode Abstraksi Brosur, sebuah media pembelajaran untuk memudahkan pemahaman anak-anak mengenai pengetahuan umum, dan masih banyak lagi metode unik dan menarik yang digunakan. Para relawan ini secara aktif mencari informasi terkait metode pembelajaran yang menarik dengan kemudian mereka modifikasi sesuai dengan konteks lokal di Kota Kendari.

Gerakan Kendari Mengajar juga menjadi salah satu peserta dalam diskusi ini. Lewat pertemuan ini saya semakin mengenal bahwa peran seorang guru kian berkembang. Dalam hal ini, guru tidak hanya mereka yang secara formal mengemban jabatan sebagai seorang guru, namun lebih kepada mereka yang memiliki konsen dalam bidang pendidikan dan mampu memberikan inspirasi kepada anak-anak didiknya. Para relawan di KOJAK dan Gerakan Kendari Mengajar pun juga bisa disebut sebagai seorang guru, pasalnya pelayanan yang mereka lakukan juga mendukung pendidikan bagi anak-anak di wilayah mereka tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Menjadi Guru 1 Hari

Ketika itu saya melihat informasi di salah satu sosial media yang membuka kesempatan untuk bergabung di Kelas Inspirasi, sebuah gerakan yang mewadahi para profesional untuk turun ke Sekolah Dasar (SD) selama satu hari. Mereka dapat berbagi cerita dan pengalaman kerjanya kepada anak-anak. Di sisi lain, melalui gerakan ini, para profesional berupaya menumbuhkan motivasi anak-anak dalam meraih cita-cita, seria membuka wawasan mereka bahwa ada berbagai macam profesi di dénia kerja, tidak semata hanya dokter, pilot, dan insinyur.

Setelah satu hari mendapatkan pembekalan, saya belajar bahwa sepandai apapun kita apabila kita tidak dapat mengkomunikasikan pesan kita kepada anak-anak kita bisa dibilang gagal dalam mengajar. Anak-anak merupakan target yang kompleks, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam memacu mereka untuk berkreasi.

Dalam proses pembekalan ini, para pembimbing yang dulunya pernah mengajar dalam program Indonesia Mengajar menuturkan bahwa melalui lagu, gerakan badan, permainan, dan kreasi anak-anak akan mudah tartarik dengan materi yang kita bawakan. Meskipun demikian setiap permainan maupun metode yang kita gunakan haruslah mengandung unsur pembelajaran sesuai dengan materi yang ingin kita sampaikan.

Setelah proses pembekalan ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok mengajar yang akan disebar ke beberapa sekolah di Kota Makassar. Saya bersama 8 rekan lainnya dari beragam profesi mendapat kesempatan berbagi pengalaman di SDN Kundung Mae. Konon sekolah ini dulunya adalah Sekolah Dasar tempat Abraham Samad, mantan ketua KPK bersekolah. Masing-masing kami mendapat kesempatan mengunjungi 5 kelas dalan satu hari.

Setelah mempersiapkan materi mengajar serta metode permainan saya merasa cukup siap untuk bertemu dengan anak-anak. Namun, dalam kenyataannya tidaklah demikian. Kesulitan yang saya alami adalah saat mengajar di Kelas 1 dan 2. Membuat anak-anak fokus dan mau mengikuti permainan kita susahnya bukan main. Sampai di titik saya menyerah dan meminta bantuan wali kelas untuk membantu mengarahkan anak-anak di kedua kelas ini. Ibu guru ini masuk dan mengajak anak-anak untuk menyanyikan sebuah lagu agar mereka tenang dan kembali duduk di tempat duduknya masing-masing.

Melihat hal ini saya cukup menghargai betapa peran guru membutuhkan kesabaran yang sangat besar dalam mendampingi anak didiknya. “Awalnya ya susah sekali, karena usia anak-anak di kelas 1 dan 2 sukanya lari-lari dan teriak-teriak. Jadi biasanya saya mengajak anak-anak menyanyi dan memberikan reward berupa bintang bagi anak-anak yang tenang dan patuh,” ujar Ibu Heni berbagi pengalamannya.

Untuk di kelas besar (3-6) relatif lebih mudah, mengingat anak-anak sedikit lebih tenang dan mudah diajak berkomunikasi. Sebelum memulai saya biasanya mengajak anak-anak untuk berkenalan dan menyanyikan lagu dengan gerakan agar mereka lebih relax dan dan tidak terkesan canggung bertemu saya yang notabene masih baru bagi anak-anak. Kemudian saya melanjutkan dengan bercerita mengenai profesi saya sebagai communication officer yang salah satu jobdesknya adalah menulis dan bergelut dengan sosial media. Saya mengumpulkan beragam gambar tentang sosok-sosok penulis yang telah berhasil menghasilkan ragam karya superti J.K Rowling dan Nick Vujicic. Yang menarik adalah ketika saya menceritakan mengenai sosok Nick Vujicic, dimana ditengah keterbatasan fisiknya mampu mengasilkan karya-karya inspiratif bahkan mampu menginspirasi banyak orang.

Dalam kesempatan ini saya juga berbagi pengalaman bahwa sosial media pun bisa menjadi peluang kerja yang menarik asalkan digunakan secara tepat. Saya pun menunjukkan pada anak-anak dimana tulisan-tulisan yang telah saya buat dapat didesiminasikan melalui akun media sosial. Melalui proses belajar ini, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa sosial media memiliki peluang yang cukup baik asalkan dimanfaatkan dengan bijaksana. Hal ini mengingat peran sosial media dikalangan anak-anak cukup merisaukan dan tidak terbatas.

Di sini saya belajar bahwa menggunakan metode melalui permainan, media visual, dan komunikatif dirasa cukup efektif, ketimbang metode belajar satu arah. Meskipun ketika saya tanya hampir sebagian besar anak-anak tidak suka menulis, namun saya yakin akan ada satu dua anak yang memiliki bakat tersebut.

“Guru Bermutu Menginspirasi Sepanjang Waktu”

Setiap orang bisa menjadi guru meskipun tanpa memiliki pengalaman maupun latar belakang sekolah di bidang pendidikan. Mereka dapat mengajar, memberikan soal, dan menilai. Namun, profesi guru tidaklah sesimpel deskripsi tersebut. Guru memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menumbuhkan inspirasi bagi setiap anak didiknya. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan setiap guru dalam mendidik anak didiknya.

Sesuai dengan deskripsi di atas mengenai gambaran guru inspiratif dikatakan bahwa guru inspiratif adalah guru yang mampu memberikan stimulus bagi anak-anaknya dalam menumbuhkan pemahaman serta penguasaan materi pembelajaran yang lebih baik.

Guru dapat diibaratkan sebagai seorang petani dalam mengolah lahannya. Petani yang berhasil mampu menghasilkan padi dengan kualitas unggul, demikian pula dengan guru dalam menghasilkan bibit penerus bangsa yang berkualitas. Petani memelihara bibit-bibit padi tersebut melalui serangkaian proses, mulai dari penanaman, pengairan, dan pemupukan serta tanpa menggunakan bahan kimiawi. Sama halnya dengan sosok guru dalam menghasilkan bibit unggul penerus bangsa, mereka perlu menjadi sosok inspiratif yang mampu menginspirasi anak-anak didiknya melalui serangkaian metode belajar mengajar yang tidak selesai begitu saja saat proses pembelajaran selesai, namun melekat pada benak setiap anak didiknya sebagai bekal mereka di masa depan.

Di awal tulisan ini saya memberikan sebuah quote dari Horace Mann, beliau adalah seorang politisi dan pembaharu sistem pendidikan di Amerika. Ia dikenal dalam mempromosikan pendidikan publik secara universal dan pelatihan guru di sekolah formal. Ia menyatakan bahwa seorang guru yang hanya mengajar tanpa memberikan inspirasi kepada anak didiknya, maka mereka hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia belaka. Benar apa yang disampaikannya. Selrang guru membutuhkan hati yang tulus untuk dapat menginspirasi para generasi penerus bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: