Implementasi Ruang Publik yang Baik di Kota Bandung

Ruang publik yang nyaman dan memadai mendukung tercapainya masyarakat yang bahagia di suatu daerah.

gopr1115-560955e94523bdfd07983f9b

Saya belum pernah menginjakkan kaki di Kota Bandung sebelumnya. Sehingga saya tidak bisa membandingkan kondisi Bandung saat ini dan sebelumnya. Namun, karena mengikuti mutasi kerja suami, akhirnya saya menjejakkan kaki pertama kali di Kota Bandung. Kota yang cukup padat, demikian kesan awal saya terhadap kota ini. Dari informasi yang saya baca, Bandung sejak dahulu memiliki banyak taman kota. Namun karena tidak terawat dengan baik, banyak dari taman-taman tersebut yang terbengkalai dan tidak jauh dari kesan kumuh. Namun sekarang muncul banyak taman-taman tematik yang menarik. Karena penasaran akhirnya saya berkeliling Kota Bandung untuk membuktikannya.

Yang menarik dari kota ini adalah banyak pohon besar di sisi kanan kiri jalan yang membuat siang yang terik itu cukup rindang. Di beberapa bagian kota, tersedia trotoar yang cukup luas untuk mengakomodir para pejalan kaki. Kursi-kursi di sepanjang trotoar pun menghiasi pemandangan siang itu. Tidak hanya itu, fasilitas tong sampah organik dan non organik pun disediakan di setiap sudutnya. Itulah pemandangan di Jalan Asia Afrika, Dago, dan Jalan Braga yang saya temui.

Menjelang sore hari, saya dan salah seorang teman mampir ke Alun Alun Kota Bandung yang cukup terkenal setelah direnovasi. Kami pun duduk santai di lapangan rumput sintetis yang difasilitasi oleh Pemkot Bandung tersebut. Lapangan seluas sekitar 22.700 meter persegi ini dipenuhi dengan rumput hijau sintetis. Sehingga masyarakat yang berkunjung wajib melepas alas kakinya. Konon dari informasi yang saya dapat sebelumnya, lokasi Alun Alun Bandung saat ini telah mengalami perubahan yang signifikan. Pasalnya dulu lokasi ini terbilang semrawut dan tidak tersedia akses yang memudahkan masyarakat untuk beraktivitas di dalamnya.

Kini Alun ALun Bandung menjadi ruang terbuka hijau yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas. Bahkan ruang publik ini terbilang ramah anak, mengingat tersedianya fasilitas bermain anak. Di sekeliling kami banyak warga dari berbagai kalangan tengah asyik beraktivitas. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, bahkan ada beberapa pengunjung yang dengan santainya berbaring di sana. Yang menarik adalah ada segerombol anak muda yang sedang melakukan permainan. Karena kepo, saya pun memperhatikan mereka dengan seksama. Ternyata mereka berasal dari sebuah komunitas yang sedang melakukan refreshing untuk menjalin keakraban antar anggota.

“Kami biasa mengadakan acara refreshing komunitas, sebelumnya sih menggunakan kampus sebagai tempat kegiatan, namun karena keterbatasan tempat sehingga kita mencari alternatif lain,” ujar salah seorang anak muda tersebut ketika saya tanya. Tak heran apabila Alun Alun Bandung menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bandung yang juga tak pernah sepi dari pengunjung.

Sekelompok anak muda ini adalah satu dari sekian banyak komunitas yang memanfaatkan fasilitas publik yang disediakan pemerintah setempat dalam mendukung kegiatan komunitasnya. Ketersediaan fasilitas ruang publik yang memadai merupakan salah satu indikator kebahagiaan masyarakat di suatu daerah. Hal ini berdasarkan pada hasil survey BPS tahun 2014 terkait indeks kebahagiaan suatu daerah. Maka tak heran apabila Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil, Walikota Bandung) menyatakan bahwa untuk membuat masyarakat Bandung bahagia maka perlu disediakan taman-taman, dan fasilitas umum yang nyaman serta mendukung aktivitas masyarakat.

Bahkan bagi pecinta hewan, tersedia Pet Park di Jalan Cilaki. Di sini seringkali dijumpai komunitas maupun individu pecinta hewan bersama hewan peliharaanya. Dan yang unik adalah tersedianya fasilitas toilet khusus hewan untuk menghindari pencemaran dan polusi akibat kotoran hewan.

“Sesama pecinta hewan bisa bersosialisasi dan sharing pengalaman terkait hewan peliharaan. Bahkan yang tidak punya hewan pun, bisa datang kalau-kalau ada informasi hewan yang akan dijual,” ujar teman saya menjelaskan pengalamannya.

Ruang publik adalah tempat yang disediakan oleh pemerintah setempat untuk digunakan dan dinikmati masyarakat secara cuma-cuma tanpa mengambil keuntungan. Jadi bisa dikatakan bahwa kita sebagai masyarakat memiliki hak penuh akan tersedianya fasilitas umum. Sehubungan dengan daerah perkotaan yang seringkali digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan hiruk pikuk dengan fasilitas umum (trotoar dan transportasi umum) yang kurang memadai, sehingga ketersediaan ruang publik menjadi oase tersendiri yang perlu senantiasa diperhatikan.

Berbicara mengenai ruang publik, hal ini berkaitan dengan tema yang diangkat pada Hari Habitat Sedunia, yaitu Ruang Publik untuk Semua.  Peringatan ini rutin diperingati setiap hari Senin pada minggu pertama bulan Oktober setiap tahunnya. Peringatan ini merupakan wujud kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak untuk semua lapisan masyarakat. Peringatan ini juga penting adanya dalam upaya mengajak masyarakat untuk  semakin peduli dan meningkatkan tanggung jawab bersama bagi masa depan habitat manusia.

Tema ini dipilih dengan tujuan untuk mendorong upaya penyediakan ruang publik yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Tema ini pun sesuai dengan beragam inovasi yang telah dilakukan pemerintah kota Bandung dalam menyediakan fasilitas ruang publik. Sebut saja Taman Fotografi, Taman Musik, Taman Jomblo, Taman Film, Taman Lansia, Pet Park, dan lainnya. Keberadaan taman-taman ini pun diperuntukkan bagi masing-masing kelompok masyarakat sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Carr, et al dalam bukunya Carmona, et al (2003, p.165) menyatakan bahwa ada tiga kualitas yang wajib dimiliki oleh ruang publik, yaitu meaningful, memiliki makna bagi masyarakat sebagai penggunanya. Democratic, ruang publik dapat diakses oleh siapa saja tanpa mengacu pada kelompok tertentu. Dan responsive, yang maksudnya adalah ruang publik harus mampu memenuhi kebutuhan warga sehubungan dengan desain fisik dan pengelolaannya. Apakah sejauh ini ruang publik yang telah disediakan oleh pemerintah kota Bandung sudah sesuai dengan ketiga hal ini?

Ruang publik adalah sebuah keharusan di suatu daerah perkotaan. Mengingat keberadaan ruang publik mampu mendukung kehidupan sosial masyarakatnya.  Ruang publik mampu berperan sebagai mediasi dalam membawa masyarakat keluar dari kehidupan individunya dalam aktivitas pekerjaan menuju kehidupan sosial melalui interaksi sosial.

Memang ruang publik diperuntukan bagi masyarakat secara cuma-cuma, meskipun demikian tanggung jawab menjaga dan merawat fasilitas tersebut adalah milik bersama masyarakat. Jadi partisipasi kita sebagai masyarakat tidak hanya menuntut terpenuhinya hak akan tersedianya fasilitas ruang publik belaka, namun tetap ada kewajiban untuk menjaga dan merawat fasilitas tersebut agar tetap terpelihara dengan baik.

Pernah published di http://www.kompasiana.com/melya.findi/implementasi-ruang-publik-yang-baik-di-kota-bandung_5609562a63afbd7008a7d8ae

 

Advertisements

2 responses

  1. Setuju mbak, eh Teh!

    Saya juga pernah menulis tentang Bandung (di blog satunya lagi), saya puji puji tuh ruang publik Bandung, terutama trotoarnya. Melimpah ruah kalau boleh saya bilang. Top deh buat Pak Ridwan Kamil.

    1. Hallo, thank u for visiting my blog
      Iya, tapi tetep ada minusnya sih, masih ada aja yang buang sampah sembarangan. Tapi so far perbaikan trotoarnya juara deh buat bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: