Kelimutu The Mountain of Spirit

Pertama kali mengenal Kelimutu adalah dari uang 5.000, hingga akhirnya saya berkesempatan untuk berkunjung kemari. Saya dan suami tiba yang pertama kalinya di parkiran kawasan Kelimutu, yaitu sekitar pukul 1/2 5 pagi. Langit masih gelap dan penerangan pun tak ada. Meski demikian perjalanan belum berakhir, kita harus berjalan lagi sekitar 20 menit hingga ke puncak lokasi untuk dapat melihat Kelimutu dari dekat. 

Udara pagi itu dingin sekali. Bahkan tangan saya terasa beku. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami untuk sampai di puncak.

Danau Kelimutu atau yang terkenal dengan danau tiga warna memiliki kandungan geokimia yang unik dimana perubahan warna disetiap danau dikendalikan oleh perubahan kondisi kimia-fisika. Perubahan warna ini kerap digunakan untuk pemantauan kondisi Kelimutu.

Saat itu warna Danau Kelimutu hijau telur asin untuk Tiwu Nuwa Moori Kachi Fah, hitam untuk Tiwu Ata Polo, dan hijau tosca untuk Tiwu Ata Mbupu. Namun yang unik, Tiwu Ata Polo yang tadinya berwarna hitam berubah menjadi hijau.

Jujur saya kagum dengan Danau Kelimutu yang menyajikan pemandangan yang tidak hanya luar biasa cantik namun juga unik.



Kelimutu juga menjadi salah satu tujuan pengunjung untuk berburu sunset. And this is the best sunset I’ve ever seen. Danau Kelimutu merupakan salah satu tujuan wajib saat berkunjung ke Flores. It’s a must place to go, at least once in life. Namun lucunya adalah mayoritas pengunjung yang datang pagi hari untuk berburu sunset adalah turis mancanegara, sementara turis domestik baru datang setelah matahari naik sekitar pukul 9. Kata bapak pemilik penginapan tempat kami menginap, mayoritas warga lokal tidak semua tahu bahwa sunset Kelimutu merupakan salah satu tujuan utama untuk menikmati indahnya  Danau Kelimutu, selain memang Danau Kelimutu itu sendiri.

Di sini juga kami bertemu dengan Pak Markus salah satu tur guide di Kelimutu. Dia bercerita bahwa tiga warna danau ini menggambarkan tiga hal yaitu Tiwu Nuwa Moori Kachi Fah sebagai jiwa orang muda, Tiwu Ata Polo sebagai aura jahat dan Tiwu Ata Mbupu sebagai jiwa para leluhur.



Pak Markus juga berpesan “Orang sekarang ini rakus, suka mengambil yang bukan hak mereka. Harusnya apa yang menjadi milik mereka untuk mereka, dan milik orang lain untuk orang lain. Dan hiduplah selaras dengan alam, karena kalau Tuhan sudah murka, manusia bukan apa-apa lagi”. Pandangan serta kearifan lokal seperti inilah yang terkadang membuat saya semakin kaya akan nilai-nilai sosial yang tertanam pada ragam masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: