​Wae Rebo, Kampung Di Atas Awan

wp-1470317314482.jpg

Saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Dan tidak terbayangkan bahwa ternyata track menuju Kampung Wae Rebo cukup menanjak. Awalnya kami berencana naik pada keesokan harinya dan menginap di Desa Denge semalam, mengingat hari itu juga kami baru tiba dari Labuan Bajo sekitar pukul 2 siang. Namun karena ada rombongan yang akan naik, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo hari itu juga. 

Berbekal air, sedikit makanan, dan baju tidur, kamipun melanjutkan perjalanan dengan ditemani porter kita yang tenaganya sekuat kuda. Perjalanan 9 kilo ini dibagi menjadi 3 post peristirahatan. Dan normalnya bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Namun karena kondisi kami saat itu yang tidak sepenuhnya kuat, apalagi saya yang tidak pernah naik gunung, jadi kami tempuh dalam waktu sekitar 3,5 jam. Yang penting sampai kan, dari pada pingsan di jalan (secara tidak ada ambulan yang bisa lewat).

9 kilo ini terhitung dari pusat informasi yang juga menjadi tempat penginapan bagi pengunjung yang ingin ke Wae Rebo. Di tiga kilo pertama, kita melewati jalanan aspal yang menanjak dan panas. Jujur, track inilah yang sangat menguras tenaga dan baru setelah post pertama kita mulai memasuki hutan.

Dalam perjalanan kita kerap bertemu dengan penduduk lokal. Karena mungkin sudah terbiasa, jadi track yang kami anggap melelahkan ini tidak ada apa-apanya bagi mereka. Saya dan suami pun saling memberi semangat hingga akhirnya kita pun sampai di tujuan.

Ada 7 rumah adat tertua Manggarai yang disebut dengan Mbaru Niang. Satu rumah adat Mbaru Niang bisa dihunu enam sampai delapan keluarga. Mayoritas penduduk Wae Rebo bermata pencaharian sebagai petani kopi. Dan pengunjung pun kerap disuguhi kopi jenis arabika tersebut. 

Kampung adat Wae Rebo masih melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Saat kami datang, kami disambut oleh tetua adat guna meminta izin dan perlindungan leluhur selama kami tinggal di Wae Rebo hingga nanti kembali lagi ke tempat asal. Ritual ini disebut dengan Pa’u Wae Lu’u. Dan terkait upaya melestarikan kearifan lokal yang ada, ada banyak larangan yang ditujukan bagi pengunjung, misalnya tidak membawa minuman beralkohol, berpakaian sopan, tidak menunjukkan kemesraan di depan umum, dll. 

Yang saya suka berada di Wae Rebo adalah ketenangan dan udara yang segar. Terbiasa berada di kota besar yang relatif padat, membuat kami seakan lupa akan kepenatan. Bukan lebay yah, but honestly I love the atmosphere around there. Ditambah keramahan penduduk dan keceriaan anak-anak, terutama melihat semangat mereka membaca yang tinggi. Kebetulan kami tiba saat libur sekolah, sehingga anak-anak ini pulang ke rumah mereka di sini. Pasalnya di Kampung Wae Rebo tidak ada sekolah, sehingga anak-anak ini harus tinggal jauh di Kampung Kombo yang letaknya tidak jauh dari Desa Denge untuk bersekolah.

Moment terbaik untuk berfoto adalah malam hari karena nampak banyak bintang dan milky way, sore hari saat kabut mulai turun, dan pagi hari saat warga mulai beraktivitas. Dan seusai berfoto ria dan menyesap kopi pagi, kamipun bersiap untuk turun. Usailah kunjungan kami di Kampung Wae Rebo. Wisata Wae Rebo tidak hanya menawarkan wisata alam yang indah, namun juga budaya serta kearifan lokalnya. Semoga dapat berkunjung lagi di lain kesempatan, dan yang pasti dengan stamina yang lebih kuat. 

Photo : Frederick Roynaldi Sembiring

Advertisements

5 responses

  1. cantik banget, jadi pengen ngajak anak kesana

    1. Iyaa, harus ajak anak supaya mengenal alam lebih dini. Kmrn juga banyak anak kecil kok

      1. Bagus ya tempat nya 😄
        Mbak hobi nys emang jlan2 ya mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: