Inovasi Daerahku: Sejahtera Bersama Melalui Kelompok Tani

Siang yang panas di Desa Honihama, Flores Timur pada bulan April 2015, saya berkunjung  ke Kelompok Tani Lewowerang (KTL). Berbekal informasi dari tokoh setempat dan ditambah informasi dari internet yang saat itu masih sangat terbatas, saya berkenalan dengan kelompok ekonomi masyarakat yang merupakan salah satu kabar baik dari Indonesia Timur  yang merupakan perpaduan antara koperasi dengang gemohing. Gemohing sendiri adalah istilah gotong royong bagi masyarakat Lamaholot, Flores Timur. Saya ditemani oleh Bapak Kamilus Tupen, penggagas dan pendiri KTL serta beberapa anggota KTL.

DCIM100GOPROGOPR0015.

Bersama Pak Kamilus (jaket abu-abu) dan warga Honihama

Pak Kamilus enggan kelompok ini disebut sebagai koperasi. Pasalnya dalam praktiknya, yang ditabung dan dipinjam oleh anggota KTL bukanlah uang melainkan sumber daya manusia. Hal inilah yang menjadikan KTL memiliki nilai jual tersendiri. KTL mampu membuktikan bahwa perekonomian mampu dijalankan dengan landasan solidaritas antar warga untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Berawal dari keprihatinan Pak Kamilus melihat kondisi masyarakat di kampung halamannya di Desa Honihama, Adonara yang mayoritas tidak memiliki pekerjaan tetap. Hingga akhirnya muncullah ide untuk mendirikan suatu kelompok yang beranggotakan kelompok tani yang mau bekerjasama dengan prinsip gemohing guna meningkatkan tingkat perekonomian warganya.

Ide ini tidak semulus yang dibayangkan. Mayoritas masyarakat Honihama awalnya menolak ide tersebut karena dianggap terlalu berlebihan. Ide ini hampir 7 tahun tidak terealisasi, hingga akhirnya sekelompok anak muda dari Karangtaruna memintanya menghidupkan kembali gagasannya. Sampai pada akhirnya terbentuklah Kelompok Tani Lewowerang (KTL) pada bulan April 2010.

KTL beranggotakan POKMAS Tani (Kelompok Masyarakat), kelompok perempuan, kelompok tukang dan perorangan. Kegiatan yang rutin dilakukan dalam KTL ini adalah penyertaan modal usaha, simpan pinjam tenaga kerja, pembelian komoditi anggota, kios koperasi, tabungan pendidikan dan kelompok pemadam kebakaran.

Ide Pak Kamilus bisa dibilang sederhana, namun gagasan ini mampu mengatasi problem perekonomian, mengatasi kelemahan koperasi kredit, dan mengangkat kembali tradisi gemohing yang awalnya mulai luntur di Adonara.

Sistem Kerja KTL

Dalam prosesnya para anggota KTL diwajibkan untuk membayar simpanan pokok sebesar Rp 100.000,- dan simpanan wajib sebesar Rp 10.000 per-bulan. Simpanan wajib ini bisa dibayar secara tunai ataupun dengan tenaga kerja. Anggota KTL dapat meminjam dana dari KTL untuk memenuhi kebutuhannya. Namun kebutuhan ini lebih kepada meminjam tenaga kerja untuk mengolah lahan, membangun rumah, mengurus kebun, dan berbagai bentuk kegiatan ekonomi yang membutuhkan dana dan tenaga kerja. Dana yang dipinjam anggota KTL nantinya dikembalikan dalam jangka waktu empat bulan dengan bunga sebesar 2 (dua) persen.

Dalam KTL, sistem pinjaman ini dalam bentuk voucher. Sebagai contoh, seorang anggota KTL meminjam dana untuk membangun rumah, maka KTL memberikan voucher pada anggota tersebut senilai jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun rumah. Dalam hal ini anggota yang meminjam dana untuk membangun rumah tersebut berperan sebagai “majikan”, yang akan membayar para buruh yang melakukan kerja gemohing membangun rumahnya. Para buruh yang dipekerjakan ini adalah sesama anggota KTL. Para buruh ini dibayar oleh majikan tidak dengan uang tunai melainkan dengan voucher yang diterimanya dari KTL. Para buruh selanjutnya akan menukarkan voucher tersebut dengan uang tunai pada KTL. Penukaran voucher dilakukan pada saat pertemuan KTL yang diadakan setiap hari Minggu.

DCIM100GOPROGOPR0008.

Ibu-ibu anggota KTL sedang dipinjam tenaganya untuk menggarap lahan anggota lain yang menyewa jasa tenaga kerja dari KTL

Anggota yang meminjam dana dari KTL bisa mengembalikan pinjamannya dalam bentuk uang tunai atau bisa juga dengan tenaga kerja. Ini berarti, semua anggota KTL bisa berperan sebagai majikan dan sekaligus buruh. Voucher yang diterima saat anggota tersebut menjadi buruh bisa digunakan untuk membayar pinjaman. Para anggota KTL yang berperan sebagai buruh akan dibayar sebesar Rp 5.000,- per-jam untuk pekerja laki-laki dan Rp 4.000,- per-jam untuk pekerja perempuan. Dan Rp 6.000,- per jam untuk pekerja terampil. Saya sempat bertanya mengapa upah tenaga perempuan lebih rendah ketimbang laki-laki. Pembedaan jumlah upah kerja antara laki-laki dan perempuan ini didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan relatif lebih ringan dibanding dengan laki-laki.

Manfaat Menjadi Anggota KTL

Gagasan Pak Kamilus sangat dirasakan manfaatnya oleh warga Honihama. Sejak 2010, kini anggota KTL hampir mencapai 300 orang, dan dengan omset sekitar 150 juta. Selain nilai gemohing yang dipegang para anggotanya, kesetaraan jender juga menjadi nilai lebih dari KTL. Sebagai contoh, warga laki-laki di kampong tersebut semula merasa gengsi apabila harus bekerja di ladang yang dimiliki perempuan. Namun, melalui KTL warga tidak lagi harus merasa gengsi, karena nilai-nilai yang ditanamkan melalui KTL. KTL tidak hanya membangkitkan kembali tradisi gemohing namun juga membuat tradisi tersebut menjadi nilai tambah bagi kesejahteraan warga kampung.

Warga yang tidak memiliki lahan dan pekerjaan tetap bisa produktif dengan bekerja pada warga lain yang membutuhkan tenaga kerja. Warga yang memiliki lahan luas namun terkendala tenaga, kini dapat mengelola lahannya secara lebih produktif karena adanya dukungan tenaga kerja dari anggota KTL yang dikelola KTL.

Kerjasama dan solidaritas menjadi kunci bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat kampung. Sebuah manfaat juga dirasakan oleh Pak Ignasius, anggota KTL yang kala itu bekerja sebagai TKI di Malaysia. Selama di Malaysia beliau tetap aktif sebagai anggota KTL. Ia meminjam tenaga kerja untuk menggarap lahan mentenya yang sementara itu ia tinggal. Hingga akhirnya ketika pulang, beliau dapat menikmati hasil panen dari lahannya yang produktif. Saya juga sempat bertemu dengan beliau, dan jujur saya pribadi merasa kagum dengan ide KTL-nya Pak Kamilus ini.

Selain dari segi ekonomi, KTL juga berdampak pada pola hidup masyarakat. Keharmonisan hidup dalam masyarakat kampung semakin terasa. Ada peningkatan juga dalam kualitas pendidikan anak. “Sekarang jarang ada lagi konflik dan perang antar kampung yang selama ini sering terjadi di Adonara akibat persoalan kepemilikan tanah. Semua serasa jadi milik bersama karena dalam satu kesatuan lahan semuanya mendapatkan keuntungan dalam berbagai bentuk,” ujar Pak Kamilus.

KTL Saat Ini

Hingga kini, KTL dikelola oleh tiga orang sebagai pengurus utama, yaitu Pak Kamilus (Ketua), Pak Siprianus (Bendahara), dan Pak Daniel (Sekretaris) dan satu pembina, yaitu Pak Thomas.

Inovasi daerah ini telah berhasil membawa Pak Kamilus dan KTL meraih penghargaan tingkat nasional untuk para pegiat kewirausahaan sosial, yaitu Kusala Swadaya pada tahun 2013. Namun tidak berhenti sampai disitu, Pak Kamilus dan KTL-nya memiliki rencana untuk mengembangkan aktivitas di KTL menjadi lebih produktif, semisal memperkuat kelompok UKM dan peningkatan produksi jagung.

Keberhasilan KTL kini semakin dikenal, tidak hanya seluruh warga Adonara dan pemerintah setempat, namun juga secara nasional. Pak Kamilus kerap menjadi pembicara di beberapa forum baik lokal maupun nasional. Tahun lalu, Pak Kamilus diundang menjadi pembicara di sebuah Forum Kawasan Timur Indonesia yang diadakan oleh BaKTI, sebuah yayasan yang fokus pada pertukaran praktik cerdas di Kawasan Indonesia Timur.

Saya yakin bahwa di seluruh penjuru negeri ini banyak inovasi daerah yang berasal dari masyarakat untuk Indonesia, dan KTL hanyalah salah satu dari inovasi cerdas tersebut. Sukses selalu untuk KTL, dan saya bangga pernah berkenalan dengan KTL.

DCIM100GOPROGOPR0047.

Sampai jumpa warga Honihama 🙂

 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku

https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku&#8221; title=”Inovasi Daerahku” target=”_blank”>https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku</a></em&gt;

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: