​Padar Island and Nine Island were Wrapped

“Harus ke Padar, sayang udah jauh-jauh gak kesana,” ujar seorang teman yang sebelumnya pernah berkunjung kesana. 

Hampir setiap melihat itinerary soal Komodo Trip, Padar selalu menjadi nilai jual tersendiri. Sebagai Instagram Addicts, saya sering terpukau oleh foto-foto teman maupun travel blogger yang pernah kesana. Sampai akhirnya saya berkesempatan melihat langsung tanpa melalui instagram saat libur lebaran lalu.

Awalnya, opentrip yang kami ambil tidak memasukkan Pulau Padar sebagai salah satu tujuan untuk dikunjungi, alhasil saya dan suami pun nekat mengambil satu paket keesokan harinya, khusus untuk mengunjungi si pulau eksotis ini.

Pulau Padar konon katanya ditemukan oleh penduduk lokal dari Kampung Komodo yang tengah berburu madu. Kampung Komodo sendiri terletak tidak jauh dari Pulau Padar, sekitar 30-45 menit dengan speadboat. Karena melihat indahnya Pulau Padar, ia pun mengambil gambar hingga akhirnya dikenal oleh berbagai pelancong dari penjuru negeri. Saya katakan penjuru negri karena mayoritas turis mancanegara belum begitu mengenal Pulau Padar. Hal ini nampak dari perjalanan kami kemarin yang didominasi oleh turis lokal.

“Kalau turis luar lebih tertarik lihat komodo atau manta,” ujar operator kapal kami.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul tujuh pagi dari Labuan Bajo dan tiba sekitar pukul sepuluh. Sebenarnya kita tertarik mengunjungi Padar saat matahari tenggelam. Namun karena sore hari kita harus melanjutkan perjalanan pulang, jadi tidak ada pilihan lain. Dan perlu diketahui bahwa di Pulau Padar hanya ada 3 tempat untuk berteduh, dan di siang hari Pulau Padar terkenal dengan panasnya yang menyengat.

Ketika hampir sampai di bibir Pulau, kami pun disambut oleh beberapa ekor lumba-lumba yang berenang kegirangan. “Yeay ada teman baru,” mungkin itu yang ada dipikirannya :).

Dan supaya lumba-lumba tersebut tidak menjauh, operator kamipun memperlambat suara kapal agar kami bisa melihat lumba-lumba yang berenang mengiringi kapal kami.

Hingga akhirnya sampailah kami di Pulau Padar yang ternyata sudah ramai dengan pengunjung lain.

Kami pun melanjutkan trekking sekitar setengah jam untuk sampai ke atas. Tracknya cukup curam dan berpasir, serta minimnya pohon untuk berteduh, sehingga kamipun mudah lelah dan kerap berhenti untuk minum. Meskipun demikian, sampai juga akhirnya kita di atas.

Satu kata yang bisa menggambarkan keindahan Pulau Padar adalah WOW. Dan yang terpikir dalam benak saya saat itu adalah Tuhan sangat baik menciptakan karya yang luar biasa ini di Indonesia. Nampak dari atas tiga buah pantai dengan tiga warna pasir yang berbeda, yaitu pink, hitam, dan putih.

Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Meskipun demikian, hanya Pulau Padar yang tidak dihuni oleh komodo.

Saking indahnya, konon kata penduduk setempat, Aburizal Bakrie tertarik untuk membeli salah satu pulau di dekat Pulau Padar, namun alhamdulillah hal ini ditolak warga.

Sekitar 1,5 jam saya dan suami berfoto ria, istirahat sejenak, dan bengong di atas (hehehe). Dan setelah puas, kamipun turun dengan melewati rute yang sama, dan harus hati-hati mengingat jalanan yang berpasir agar tak tergelincir.

Kesan kagum saya pun terusik lantaran melihat sampah di sepanjang jalur trekking, bahkan di bibir pantai. Banyak sampah botol minum dan plastik yang ditinggalkan pengunjung. Dan yang sangat disayangkan pula, kadang operator kapal yang juga sebagai warga lokal tidak menganggap bahwa kebersihan laut dan pantai itu penting. Pasalnya selama di kapal mereka dengan enteng membuang apapun ke dalam laut.

So sad 😦

Sampai di kapal, kami melanjutkan perjalanan pulang. Eitsss, ternyata tidak sampai di situ saja perjalanan kami. Operator kami yang baik hati ini memberi kami bonus mengunjungi tempat lain, yaitu Pulau Sembilan. Pulau Sembilan, disebut demikian karena bentuknya yang berasal dari gugusan karang mati yang secara alami membentuk angka sembilan. Selain itu yang unik dari pulau ini adalah banyaknya ubur-ubur stingless (tidak menyengat). Kalau di Kakaban, ubur-uburnya berwarna kekuningan, kalau di Pulau Sembilan berwarna biru dan ukurannya jauh lebih besar.

“Kalau mau keliling Pulau Komodo, lebih enak dengan orang lokal, karena kami lebih tahu spot-spot baru yang kadang operator resmi tidak tahu,” ujar operator kapal kami promosi.

Tapi benar juga, karena hampir di semua paket penawaran untuk trip keliling Pulau Komodo jarang memasukkan Pulau Sembilan ke dalam paketnya. Padahal bagi penggemar ubur-ubur tempat ini wajib untuk dikunjungi.

Notes :

•Kalau ingin mengunjungi Pulau Padar dengan cuaca yang tidak terlalu panas, datang saat menjelang sunset dan sunrise.

•Selain dengan operator resmi, kalian juga bisa menyewa kapal secara langsung di pelabuhan, dengan catatan harus rombongan supaya lebih hemat.

Advertisements

4 responses

  1. Keren parah emang kalau lihat poto2 di padar. Huhuhu pengen banget

  2. mudah2an ane dan keluarga bisa segera kesana. keren banget pulaunya nie. liat foto2nya aja udah bikin smangat nabung utk kesana scepatnya.

    1. Aminnnn semoga ya mas… 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: