Belajar Menulis Dengan Banyak Membaca

Bulan September silam, saya berkesempatan hadir dalam acara bedah buku milik Zen RS yang berjudul Simulakra. Sayangnya saya dan suami sedikit terlambat sehingga baru mengikuti acara tepat dipertengahan. Acara yang digelar di Solo ini diselenggarakan di Rumah Blogger Indonesia.

Zen RS adalah penulis buku yang salah satu karyanya berjudul Jalan Lain Ke Tulehu dan sempat menjadi bagian dalam film Cahaya Dari Timur yang diperankan oleh Chicko Jericco. Ia juga aktif menulis di blog pribadi serta pendiri dan penyunting panditfootball.com. Suami yang mulanya mengenalkan sosok Zen RS kepada saya. Namun di sini saya tidak akan membahas mengenai sosok Zen RS, mengingat informasi tersebut pasti banyak ditemukan kalau kita rajin googling.

Zen RS memang memiliki konsen di bidang sepakbola. Bahkan semua buku dan tulisannya beraroma sepakbola. Tak heran ia sempat dipercaya memberikan pelatihan menulis bagi pegawai Kemenpora. Bisa dikatakan bahwa Zen RS adalah pionir munculnya generasi digital bagi para penulis sepak bola di Indonesia.

Kami hadir ketika tengah memasuki sesi tanya jawab dengan peserta. Dari apa yang ditanyakan peserta, saya menjadi tahu setidaknya garis besar informasi yang disampaikan di muka.

Tepat saat itu seorang ibu dengan anak dalam gendongannya bertanya bagaimana meningkatkan minat baca di Kota Solo. Ia juga sempat menanyakan apa menariknya sepak bola kalau yang didukung adalah timnas dari negara lain. Sontak pertanyaan ini menimbulkan tawa kecil dikalangan peserta yang mayoritas didominasi kaum laki-laki. Ya, sebagai non-penggemar bola, mungkin saya akan berpikiran sama dengan si ibu. Meskipun demikian, sepakbola menjadi unik dan menarik bukan karena ia sebatas olahraga semata. Sepakbola juga merupakan media permainan politik dari sebuah organisasi besar, serta ragam intrik di dalamnya.

Acara ini semakin menarik, dimana Zen berbagi informasi dan tips untuk menjadi penulis. Saya pun membawa bekal ilmu baru yang bermanfaat.

“Awali dengan banyak membaca buku,” ujarnya. Menurut Zen, dengan banyak membaca buku, orang akan memiliki wawasan baru. Dengan wawasan baru ia akan memiliki ide yang dapat dituangkan dalam bentuk tulisan, setidaknya dapat diawali dengan membuat resensi buku. Dan tak perlu memiliki keahlian menulis yang mumpuni untuk mengawalinya, karena menulis pun perlu dibiasakan dengan berlatih.

Hal ini pun telah saya rasakan. Membaca merupakan media transformasi informasi. Melalui aktivitas membaca buku, informasi akan masuk ke dalam pikiran kita yang kemudian berproses hingga menjadi sebuah pemahaman baru yang membangun. Sehingga tanpa rajin membaca, orang akan minim informasi sehingga sulit menuangkan gagadan apapun dalam bentuk tulisan. Masih ragu? Silahkan dicoba 😊

Tingkat literasi di Indonesia masih terbilang rendah. Berdasarkan survei UNESCO tahun 2014, disebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun. Bahkan pada pemeringkatan terbaru data World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara. Miris kan!

Zen RS berbicara demikian karena ia menerapkannya sendiri. Banyak sekali buku yang telah dilahapnya. Bahkan saking mendukung setiap gerakan literasi, ia berani mengkritik Ridwan Kamil terkait pembubaran yang disertai kekerasan oleh tentara Komando Daerah Militer III Siliwangi terhadap Komunitas Perpustakaan Jalanan Kota Bandung.

Advertisements

2 responses

  1. karena membaca memang salah satu inspirasi untuk menulis

    1. Betulll mass, setujuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: